RADAR JOGJA - Fight club semakin banyak memiliki peminat. Khusunya bagi kalangan yang ingin melampiaskan kerinduannya soal perkelahian. Namun dengan aturan yang jelas dan lawan yang tidak sembarangan.
Hal ini diungkapkan oleh Rendy Arfiansyah. Beberapa waktu lalu, dia ikut bertarung di ring tinju Fight Club Yogyakarta. Sempat terhuyung karena jotosan lawan, dia mencoba memfokuskan kembali pandangannya yang kabur. Lantas dia melancarkan pukulan straight bertubi-tubi ke arah lawan.
Kondisi itulah yang membawa kembali ingatan Rendy saat SMA. Ketia dia kerap berkelahi di jalanan sebelum digelandang ke kantor polisi.
Meskipun tidak memiliki basic skill beladiri, dia tetap nekat mendaftar dalam gelaran street boxing yang sedang marak itu. “Aku ingin gelut yang benar di atas ring,” ujarnya saat dihubungi kemarin (9/8).
Dia tidak berkecil hati meski sama sekali tidak punya pengetahuan soal beladiri. Satu-satunya pengetahuan beladiri yang dia tahu adalah tinju. Karena saat kecil, dia sering menonton tinju di televisi bersama ayahnya. “Jagoan bapakku Floyd Mayweather,” kata Rendy.
Saat masih duduk di bangku kelas XI SMA, dia diminta kakak kelasnya untuk nge-drop geng SMA lawan. Dia pun ikut. Pada hari pengeroyokan itu, Rendy bersama geng SMA-nya berpatroli di wilayah geng lawan. Sembari memamerkan senjata yang mereka bawa. Tiba-tiba motornya ditendang orang. Rendy pun jatuh tersungkur. “Ternyata itu rombongan warga yang berburu klithih,” beber pemuda yang berdomisili di Ngaglik, Sleman ini.
Rendy yang tersungkur segera diseret dan dikerubungi warga. Nasib baik menghampiri karena warga tidak main hakim sendiri. Rendy dan teman-temannya lalu dibawa ke Mapolsek Turi, Sleman.
Di kantor polisi itu, Rendy kena bogem mentah dari petugas. Dia terpaksa meringkuk di sel semalam sebelum dijemput oleh orang tuanya. “Awalnya dinasehati, dimarahi sama polisi, tapi terus ya dipukul. Dari situ aku sudah beneran kapok sih. Malu sama orang tua juga,” ungkapnya.
Keputusannya untuk ikut di ajang street boxing pun semata untuk melepas rindu. Dia ingin “gelut”, namun tidak ingin menanggung risiko di luar perkelahiannya.
“Gelut di ring besar dan ditonton banyak orang bikin grogi. Apalagi kalau lawannya punya basic skill, tambah bikin nggak fokus,” tutur pemuda 23 tahun ini.
Sejauh ini, dia sudah dua kali terjun di ajang yang diinisiasi Fight Club Yogyakarta itu. Meskipun dua kali pula dia keluar ring dengan kekalahan. Rendy tak terlalu ambil pusing. Toh, memang ajang tersebut menjunjung konsep “No Win, No Lose, No Pressure”.
Sebelumnya, Rendy juga pernah satu kali ikut di ajang Jogja Gelut Day. Saat itu, dia menang di babak kualifikasi karena lawannya sama-sama nonbasic. Namun dia harus terhenti di babak berikutnya saat menghadapi lawan yang punya basic skill kick boxing.
“Dulu aku sering gelut cuma karena ingin membuktikan kalau aku jagoan. Ya nakalnya remaja, lagi cari jati diri kalau kata orang,” ujar pemuda yang kini sedang menyelesaikan studi S1 jurusan Desain Komunikasi Visual ini.
Usai mengikuti ajang-ajang tersebut, Rendy merasa rasa rindu gelutnya sudah lunas. Dia menyadari dirinya yang ada di ring bukanlah dirinya semasa berseragam putih abu-abu. Dia yang sekarang lebih mampu mengukur kapasitas diri. Mampu mengukur kapan harus berhenti dan merasa cukup.
Rendy mengungkapkan, dirinya berniat terus melatih fisiknya untuk mendaftar di ajang serupa. Baginya, kekalahan di ring tak jadi soal. "Toh, di ajang itu bisa nambah kenalan dan teman juga," tandasnya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika