RADAR JOGJA - Upaya penanganan sampah di Kota Jogja juga dilakukan institusi pendidikan. Mempraktikan sekolah adiwiyata, SMAN 10 Jogja mengolah sampah organik dengan metode maggot. Karena volume sampah yang dihasilkan sekolah sedikit, banyak guru yang bawa sampah organik dari rumah.
FAHMI FAHRIZA, Jogja
Salah satu ruang di halaman depan SMAN 10 Jogja terlihat layaknya gudang. Tapi ternyata di dalamnya menyimpan potensi rupiah. Melalui budidaya maggot. Untuk mengurai sampah organik. Yang hasilnya bisa dijual. Maka terdapat tulisan ‘Entreprenuer mengubah sampah jadi emas.’
Usaha yang dilakukan warga sekolah di SMAN 10 Jogja itu sudah berjalan kurang lebih dua bulan terakhir. Namun, dalam praktiknya hal tersebut tidak serta merta berjalan mulus. Maggot tersebut sebelumnya sempat mati, karena pemberian makan yang kurang teratur. "Kemarin sempat libur lama, jadi pemberian makannya agak terlambat, akhirnya mati cukup banyak," Kepala sekolah SMAN 10 Jogja Sri Moerni, Rabu (7/8).
Untuk itu, kata dia, saat ini ini sekolah sedang mulai beternak lagi. Dengan pembelian telur-telur maggot baru. Menurut dia, kesadaran pengolahan sampah mandiri harusnya sudah jadi hal yang dilakukan oleh sekolah. Kendati pun, volume sampah yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak atau signifikan. “Volume sampahnya sebenarnya tidak banyak, didominasi oleh sisa makanan dan banyak sampah kertas," ujarnya.
Staf tata usaha yang ditugasi mengurus maggot Kus Raharjo berujar, dari yang dipelajarinya, tahapan awal ketika maggot masih menjadi telur memang periode yang cukup kompleks. "Nanti kalau dia udah besar itu gampang, dikasih makan juga beranak-pinak nya cepat," serunya.
Ia membeberkan, ke depannya siap membuat sebuah program berkelanjutan tentang budidaya maggot ini. Bahkan, ia berpikir untuk turut serta melibatkan siswa sebagai partisipan aktif.
"Pengennya ya dibuat sistem yang jelas, siswa juga bisa ikut bantu dan belajar juga," harapnya.
Dalam praktiknya, Kus mengungkapkan banyak juga para guru yang sengaja membawa sampah dari rumah, hal tersebut diakuinya cukup efektif ketika nanti maggot sudah tumbuh. Karena, sampah dari sekolah sendiri rasanya tidak benar-benar mencukupi untuk dikonsumsi maggot. "Guru bawa sampah ke sini, itu tidak apa-apa. Biar jadi makanan maggot dan makin cepat berkembang biak," tuturnya.
Sri menambahkan, metode penguraian sampah tersebut sengaja dilakukan. Selain untuk mengurangi volume sampah di sekolah, ini juga sebagai komitmen sekolah, mengingat SMAN 10 Jogja sendiri adalah sekolah Adiwiyata Nasional. SMAN 10 Jogja sudah memperoleh predikat Adiwiyata Nasional sejak 2022 lalu,. "Saat ini sedang menuju Adiwiyata Mandiri, yaitu level yang paling tinggi di Nasional," bebernya.
Selain itu, ia menyebut bahwa SMAN 10 juga menggandeng bank sampah dalam praktiknya. Namun bank sampah tersebut lebih banyak diperbantukan untuk mengurangi sampah-sampah kertas. "Kami tiap semester juga workshop dengan DLH, itu salah satu komitmen kami mempertahankan sekolah Adiwiyata, dan mengedukasi warga sekolah," lontarnya. (pra)
Editor : Satria Pradika