JOGJA - Timbunan sampah liar mulai kembali muncul pada beberapa titik di Kota Jogja. Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mengakui pengolahan sampah yang belum optimal menjadi salah satu penyebabnya.
Pantauan Radar Jogja pada Selasa (6/8), tumpukan sampah liar nampak pada beberapa jalan protokol di Kota Jogja. Contohnya di Jalan Magelang, kemudian juga ada tumpukan sampah di Perempatan Pingit, selain itu kantong sampah juga terlihat sekitar Stadion Mandala Krida.
Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja Sugeng Purwanto mengatakan, pihaknya sudah berupaya memaksimalkan empat titik pengelolaan sampah. Meliputi TPS3R Kranon, Karangmiri, Nitikan, dan Sitimulyo. Hanya saja, diakui memang pengelolaan yang sudah dilakukan belum optimal.
Hal tersebut disebut menjadi salah satu faktor kenapa depo-depo sampah saat ini mulai penuh kembali. Termasuk juga penyebab munculnya lagi tumpukan sampah liar pada beberapa titik.
“Memaksimalkan empat titik pengelolaan sampah sudah menjadi komitmen kami untuk jalan terus, namun kami memang masih menyisakan volume sampah yang secara real belum dapat kami kondisikan,” ujar Sugeng, Selasa (6/8).
Sugeng menyatakan, dalam upaya menangani permasalahan sampah memang pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dikarenakan untuk mengurangi produksi sampah harus diselesaikan dari masyarakat sebagai hulu atau sumber penghasil sampah.
Oleh karena itu, pihaknya pun mengajak masyarakat agar mau mengelola sampah anorganik melalui bank-bank sampah di Kota Jogja. Sementara untuk pengolahan sampah organik sudah diupayakan oleh pemerintah melalui gerakan Organikkan Jogja.
“Hulu harus terkendali, kalau tidak ya (permasalahan sampah) tidak bisa selesai seperti yang diharapkan,” terang Sugeng.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Aman Yuriadijaya menyampaikan, bahwa pemkot masih terus berupaya menemukan metode yang tepat untuk pengelolaan sampah. Baik itu untuk pengolahan sampah organik maupun anorganik.
Diakui Aman, sampai saat ini empat TPS3R milik Pemkot Jogja memang belum secara optimal mengelola sampah anorganik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Contohnya di TPS3R Nitikan yang memiliki kapasitas 70 ton namun baru mampu mengolah 60 ton. Kemudian juga TPS3R Kranon yang baru mampu mengolah 20 ton sampah dari total kapasitas 30 ton.
Kondisi yang sama juga terjadi di TPS3R Karangmiri, dari total kapasitas 30 ton namun baru mampu mengolah 5 ton. Serta di TPS3R Sitimulyo Piyungan yang baru mampu mengolah 10 ton dari total kapasitas 30 ton.
Baca Juga: Baznas Kabupaten Magelang Kucurkan Dana Rp 525,7 Miliar, untuk Santuni Ribuan Anak Yatim Piatu
Dia menyebut, kurang optimalnya pengolahan sampah di empat TPS3R dikarenakan mayoritas sampah di Kota Jogja merupakan jenis organik. Bahkan sampah anorganik pun sebagian bercampur dengan sampah organik. Sehingga ketika diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) memiliki kadar air yang terlalu tinggi.
“Kenapa kapasitas di TPS3R Nitikan, Kranon, Karangmiri dan Sitimulyo tidak optimal. Karena mayoritas organik,” beber Aman. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin