JOGJA - Upaya pencegahan bencana kebakaran pada gedung-gedung di Kota Jogja harus ditingkatkan. Sebab Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) masih menemukan sejumlah peralatan proteksi kebakaran yang kurang berfungsi dengan baik.
Kepala Seksi Pencegahan dan Inspeksi Dinas Damkarmat Kota Johj Aswan Anas Wiryawan mengatakan, hingga bulan Juli pihaknya sudah melakukan inspeksi proteksi kebakaran terhadap 54 gedung. Meliputi gedung perkantoran, hotel, rumah sakit, dan bangunan kampus yang masuk kategori bangunan rendah dan menengah.
Aswan menerangkan, gedung kategori rendah merupakan bangunan yang memiliki 1-2 lantai. Total yang sudah diperiksa sebanyak 30 gedung. Sementara untuk bangunan kategori menengah atau yang memiliki 4-9 lantai sudah diperiksa sebanyak 24 gedung.
“Target kami selama tahun ini untuk gedung kategori menengah berjumlah 40 lantai, kalau yang kategori rendah sudah kami selesaikan pemeriksaan di bulan April kemarin,” ujar Aswan saat dikonfirmasi, Jumat (2/8).
Dia melanjutkan, dari puluhan gedung yang diperiksa mayoritas memang sudah memenuhi standar proteksi kebakaran. Namun, memang ada sebagian gedung yang peralatan pemadam kebakarannya tidak berfungsi dengan baik. Sehingga wajib dilakukan penggantian atau perbaikan.
Menurut Aswan, contoh temuan peralatan yang malfungsi berupa tidak berfungsinya pompa hydrant. Penyebabnya dikarenakan tidak pernah dinyalakan atau dirawat oleh pengelola gedung. Sehingga petugas pun menyarankan agar pompa hydrant bisa dikeluarkan airnya tiga bulan sekali serta dilakukan pemanasan mesin minimal tiga hari sekali.
Selain itu, juga ada kasus detektor kebakaran yang tidak berfungsi. Oleh petugas pun disarankan agar dilakukan penggantian. Serta rutin melakukan pembunyian alarm kebakaran minimal satu tahun sekali ketika ada pelatihan kondisi darurat kebakaran.
“Kalau secara kelengkapan peralatan bisa dikatakan 90 persen mempunyai, tapi memang untuk keberfungsian banyak yang bermasalah,” ungkap Aswan.
Terpisah, Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Ririk Banowati menyampaikan, upaya pencegahan kebakaran memang harus menjadi perhatian Pemkot Jogja. Oleh karena itu, pihaknya pun selalu mendukung berbagai program terkait peningkatan sarana dan prasarana (sarpras) proteksi kebakaran.
Ririk menyebut, bahwa pihaknya juga terus menggenjot kehadiran hydrant kering di kampung-kampung. Hanya saja, dalam satu tahun memang baru dapat dilakukan penambahan satu unit titik hydrant kering karena minimnya anggaran.
Politisi Partai Gerindra itu juga akan mengusulkan pembangunan tandon air pada tiap kemantren. Program tersebut dinilai penting agar nantinya petugas pemadam kebakaran tidak lagi kerepotan untuk mengambil air untuk memadamkan api.
“Kami mendorong hydrant kering agar dipasang pada wilayah-wilayah padat penduduk terlebih dahulu,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin