Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPS Kota Jogja: Iuran Sampah dan Biaya Pendidikan Jadi Penyumbang Inflasi Bulan Juli 2024

Iwan Nurwanto • Kamis, 1 Agustus 2024 | 22:01 WIB
Pengendara Motor Melintas di Samping Tumpukan Sampah Liar di kawasan jalan Kusbini, Demangan, Jogja, (30/7).ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
Pengendara Motor Melintas di Samping Tumpukan Sampah Liar di kawasan jalan Kusbini, Demangan, Jogja, (30/7).ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja menyebut ada beberapa sektor yang menjadi penyumbang inflasi selama bulan Juli. Adapun yang cukup mencolok pada sektor biaya pendidikan dan iuran pembuangan sampah.

Kepala BPS Kota Jogja Mainil Asni mengatakan, secara umum selama bulan Juli angka inflasi di Kota Jogja mencapai angka 1,09 persen. Sementara untuk tingkat deflasi berada pada angka 0,01 persen.

Menurut dia, sektor pendidikan menyumbang inflasi sebesar 0,09 persen. Sementara untuk iuran pembuangan sampah yang masuk dalam kelompok perumahan menyumbang inflasi sebesar 0,08 persen pada bulan Juli.

Mainil mengungkap, sektor pendidikan memang mengalami peningkatan inflasi pada jenjang SD dan SMP swasta. Kondisi tersebut tidak lepas dari peningkatan beberapa komponen. Meliputi naiknya biaya sekolah, uang pendaftaran, atau uang pembangunan sekolah.

“Sementara untuk jenjang SMA tidak terlalu besar dalam menyumbang inflasi,” ujar Mainil saat ditemui, Kamis (1/8).

Kemudian terkait dengan peningkatan inflasi dari sektor pembayaran iuran pembuangan sampah menyumbang sebesar 0,04 persen. Dia tidak menampik, kondisi darurat sampah yang terjadi di Kota Jogja saat ini memang dapat berpengaruh terhadap naiknya biaya iuran pembuangan sampah.

Sebab, hal tersebut dapat terjadi karena ada sebagian kelompok-kelompok masyarakat yang melakukan peningkatan intensitas atau cara pengolahan sampah. Misalnya, ada RT yang menaikan iuran sampah karena telah memiliki solusi pengolahan yang lebih baik. Sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar.

“Kemungkinan menaikkan tarif pemungutan sampah karena masyarakat punya effort lebih untuk mengelola sampahnya,” terang Mainil.

Sementara untuk deflasi di Kota Jogja, Mainil menyebut, bahwa penyumbang deflasi terbesar ada di sektor bahan makan dengan angka 0,23 persen. Penyebabnya dikarenakan banyak produksi bahan makanan yang melimpah atau surplus selama bulan Juli.

Meskipun demikian, beberapa komoditas seperti cabai rawit dan bawang merah diakuinya memang masih berada pada kisaran harga yang cukup tinggi. Sehingga masih menjadi penyumbang inflasi di Kota Jogja.

“Bahan makanan hampir semua turun, kecuali cabe rawit dan bawang merah harganya cukup tinggi,” beber Mainil.

Terkait dengan tingginya harga cabai rawit, Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi karena permintaan cabai yang cukup tinggi. Entah itu dari masyarakat maupun permintaan konsumen luar daerah.

Ambar mengaku, pihaknya juga tengah berupaya untuk menekan harga cabai. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah di antaranya dengan mempertemukan antara petani di kabupaten Bantul dengan pedagang di Pasar Prawirotaman dan Pasar Beringharjo.

“Harapan kami upaya itu membantu, meskipun tidak akan mampu mencukupi kebutuhan di Kota Jogja karena permintaan cabai cukup tinggi,” beber Ambar. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#darurat sampah #pembuangan sampah #biaya pendidikan #Sampah 30 Ton #inflasi #Sampah #Inflasi Jogjakarta