Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Bullying di Kota Jogja Semakin Memprihatinkan, Ada Pelajar yang Depresi dan Tidak Mau Masuk Sekolah

Iwan Nurwanto • Senin, 29 Juli 2024 | 21:31 WIB
Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Kota Jogja Sri Isnayanti saat menyampaikan keterangannya kemarin (26/7). (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Kota Jogja Sri Isnayanti saat menyampaikan keterangannya kemarin (26/7). (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

JOGJA - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menyebut perundungan atau bullying masih menjadi momok menakutkan bagi pelajar di Kota Jogja.

Pasalnya, dampak dari tindakan tersebut tidak jarang membuat pelajar mengalami depresi.

Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Kota Jogja Sri Isnayanti Sudiasih mengatakan, fenomena bullying memang cukup marak terjadi pada kalangan pelajar Kota Jogja.

Entah itu bullying yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui gawai (cyber bullying).

Isna sapaannya mengungkap, maraknya kasus bullying itu juga berdasar dari banyaknya sekolah-sekolah di Kota Jogja yang meminta sosialisasi terkait dengan isu pencegahan bullying kepada DP3AP2KB.

Hal tersebut diajukan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa waktu lalu.

“Bullying memang sekarang menjadi isu sekarang yang cukup marak, itu berdasarkan permintaan dari sekolah yang ingin kami mengisi tentang materi pencegahan bullying atau perundungan,” ujar Isna, Senin (29/7/2024).

Perihal data pasti kasus bullying di Kota Jogja, dia mengaku, DP3AP2KB Kota Jogja memang belum memiliki catatannya.

Sebab banyak kasus bullying yang justru tidak dilaporkan atau sudah diselesaikan oleh pihak sekolah.

Walaupun demikian, Isna melanjutkan, tindakan bullying memang tidak jarang memiliki dampak buruk.

Salah satunya dapat memberikan efek traumatis kepada korbannya.

Bahkan pihaknya juga pernah ikut menangani korban bullying yang sampai mengalami depresi dan tidak mau berangkat sekolah.

Lalu berujung pengajuan perpindahan sekolah karena tidak kuat menerima perundungan dari teman-temannya.

“Faktor penyebab bullying biasanya anak-anak mendengar atau sesuatu yang tidak baik lalu dipraktikkan kepada temannya. Bisa saja dari melihat konten di handphone,” terang Isna.

Dikonfirmasi terpisah, Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Yogo Prasetyo Pri Hutomo mengaku, memang cukup menaruh perhatian terhadap pencegahan bullying di satuan pendidikan.

Bahkan pihaknya sempat berencana untuk membuat satuan pengawas sekolah untuk mencegah tindak perundungan.

Menurut politisi Partai Golkar itu, kasus bullying di lingkungan sekolah biasanya juga terjadi secara turun temurun.

Artinya, awalnya mungkin dilakukan oleh senior kepada adik kelasnya.

Kemudian setelah senior tersebut lulus maka tindakan bullying akan dilakukan kembali oleh junior yang sudah naik kelas kepada adik kelasnya.

“Jika tidak dihentikan (bullying) akhirnya akan menjadi budaya turun-temurun untuk adik kelas yang selanjutnya,” terang Yogo. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Perundungan #bullying #Sekolah #pelajar jogja