RADAR JOGJA - Karya seni kerap kali hanya bisa dimiliki oleh kalangan ekonomi menengah ke atas saja. Hal ini karena harganya yang mahal hingga menyentuh angka puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Pameran Adem Ayem mencoba untuk mendobrak fenomena ini.
"Golongan menengah ke bawah ingin barang seni tapi tak terjangkau. Kalau harganya Rp 30 juta sampai Rp 40 juta bagaimana?” ucap budayawan Sindhunata pada orasi budaya pembukaan pameran di Omah Petroek, Pakem, Kamis (25/7).
Menurutnya, keadilan juga diperlukan dalam dunia seni. Terobosan semacam ini perlu dukungan semua pihak, termasuk pemerintah. Untuk itu, karya yang dijual dalam pameran ini berkisar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta.
Pameran diikuti 25 seniman yang mayoritas dari Sleman. Karya yang dipajang terdiri atas lukisan dan patung. Di antaranya, Agus Purwanto dengan karya lukis Pojok Jogja, Bambang Pramudiyanto dengan karya lukis Pada Sebuah Daun, dan Ismanto dengan karya patung Banyu Mili.
Sindhunata menilai, Sleman memiliki lanskap yang indah. Kehadiran Gunung Merapi bisa menjadi sumber inspirasi dengan selurun mitos dan sejarahnya. Terlebih, di Sleman banyak tumbuh ruang seni. “Kiranya pameran ini merupakan salah satu sarana untuk menyatakan rasa takjub akan keindahan Gunung Merapi,” ujarnya.
Pemilihan kata adem ayem sendiri diharapkan bisa mengingatkan akan suasana alam yang tenteram dan damai. “Semoga bisa menjangkau seluruh masyarakat. Bukan sekadar persoalan uang,” ucapnya.
Penulis pameran Mikke Susanto menuturkan, perkembangan seni di Sleman tidak hanya mengikuti gaya tradisional, tetapi ikut mengadopsi teknik dan tema kontemporer. Oleh sebab itu, tak heran jika Sleman memiliki khazanah budaya yang beragam. “Dari Juni hingga Agustus awal ada sekitar 250 pameran yang diselenggarakan. Sleman sedang Lebaran seni,” tuturnya.
Meski demikian, ia menilai karya yang dipajang secara keseluruhan tidak membicarakan keberadaan Sleman itu sendiri. Karya-karya seniman justru membicaran persoalan di wilayah lain atau isu nasional hingga identitas diri. “Sleman beruntung dipilih oleh para seniman sebagai tempat berteduh,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Edy Winarya berharap, pameran bisa membawa kesejukan bagi masyarakat dan mampu memberi suasana nyaman bagi para seniman. “Semoga pameran ini bisa memberi motivasi untuk menghasilkan karya seni yang inovatif dan berkualitas,” ucapnya. (cr1/laz)