RADAR JOGJA - Pembuatan ecoprint bisa dengan berbagai metode. Umumnya menggunakan teknik panas dengan cara dikukus hingga founding atau hammering. Berupa proses transfer motif daun dengan cara dipukul.
Namun, teknik ironing atau metode joss disebut lebih praktis. "Kali ini kita coba kenalkan membuat ecoprint dengan ironing atau dengan setrika," tutur praktisi ecoprint Jogja Novi Bamboo di TBY Rabu (24/7).
Disebut joss, lanjutnya, karena saat proses pembuatan menghasilkan suara "joss". Berasal dari daun yang dipanaskan untuk pemindahan motif ke media.
Teknik tersebut, sama seperti teknik dipanaskan. Hanya saja media atau kain tidak perlu digulung. Daun hanya dengan ditempelkan ke media lalu dipanaskan menggunakan setrika. "Bahan media kami menggunakan kaus tekstil atau bahan yang bersifat serat alami," jelasnya.
Teknik tersebut dipilih karena banyak orang yang ingin membuat motif ecoprint di bagian tertentu. Itu tidak bisa dilakukan dengan teknik dipanaskan karena motif akan otomatis menyebar ke media yang digulung. "Metode ini mudah dan cepat, tinggal memposisikan motif ecoprint ke tempat yang diinginkan," ungkapnya.
Proses pengerjaan dengan teknik ironing bisa dilakukan hanya dengan 10 menit proses pemanasan. Namun kendalanya adalah area motif yang tidak lebar. Atau hanya sebatas luas setrika. "Tumbuhan yang (digunakan, Red) mengeluarkan zat warna seperti daun jati, lanang, truja, jambu dan lainya," bebernya.
Workshop ini, kata Novi, diikuti oleh 30 orang. Merupakan anak-anak hingga usia mahasiswa. “Tujuanya untuk memperkenalkan bahwa disekitar kita ada banyak bahan yang bisa menjadi karya seni dan potensi menghasilkan pendapatan," tuturnya.
Peserta workshop Regina Melia mengaku, rela mengambil cuti kerja untuk mengikuti kegiatan ini. "Dapat metode baru, pendaftaran juga gratis," ujar guru SD di Kota Jogja ini.
Meskipun dia merupakan pekaku seni kerajinan ecoprint, metode ironing baru pertama kali dicobanya. Sebab sebelumnya, dia hanya membuat ecoprint dengan metode stim dan founding.
"Metode ini lebih bisa ditata mau diaplikasikan dibagian mana. Kalau stim itu acak nanti hasil motifnya," tandas mahasiswi lulusan Pendidikan Seni Kriya UNY angkatan 2017 ini. (oso/eno)
Editor : Satria Pradika