Korban yang meninggal dunia sebanyak 208 jiwa. Sedangkan yang mengalami luka-luka sejumlah 2510 jiwa.
“Usia korban terbesar pada rentang 16 sampai dengan 25 tahun atau 38 persen,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DIY Wiyos Santoso.
Data itu disampaikan Wiyos saat memberikan sambutan dalam acara Sosialisasi dan Diskusi Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di DIY 2024 di kantor Dinas Perhubungan DIY Jalan Babarsari, Sleman, (22/7).
Berdasarkan data tersebut, pelajar merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap lakalantas.
Menyikapi itu, Dinas Perhubungan DIY memiliki komitmen membangun budaya keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.
Langkah penting menekan angka lakalantas dilakukan melalui sosialisasi disertai diskusi interaktif.
“Melalui kegiatan ini, muncul pelopor pengguna lalu lintas yang menjadi contoh dan agen perubahan dalam mempromosikan keselamatan lalu lintas di lingkungan dan masyarakat sekitarnya,” ajak Wiyos.
Kepala Sub Direktorat Manajemen Kesalamatan Kementerian Perhubungan RI Ellis memaparkan, upaya menumbuhkan budaya keselamata dimulai dari para siswa SMA/SMK.
Mereka tergolong pengendara baru. Data kecelakaan lalu lintas 2023 di Indonesia terdapat 27.895 orang yang meninggal, luka berat 15.154 dan luka ringan 18.920.
"Korbannya itu di usia produktif 10-49 tahun sekitar 70 persen," ujarnya.
Ini artinya, lanjut Ellis, korban lakalantas mayoritas tulang punggung keluarga. Mereka masih produktif dalam bekerja.
Terbanyak kendaraan yang mengalami kecelakaan jenis sepeda motor.
"Fatalitas korban berdasarkan jenis kelamin mayoritas itu laki-laki. Karena tulang punggung sehingga berpotensi menyebabkan kemiskinan," bebernya di depan 100 pelajar SMA/SMK yang menjadi peserta diskusi.
Mereka berasal dari SMAN 1 Lendah, Kulon Progo, SMAN 1 Bantul, SMAN 1 Srandakan, Bantul, SMAN 1 Wates, Kulon Progo dan SMKN 1 Tempel, Sleman.
Anggota Komisi C DPRD DIY Muhammad Yazid mengingatkan, budaya keselamatan lalu lintas harus dibangun.
Dia mencontohkan Singapura yang masyarakatnya tertib mentaati peraturan lalu lintas. Tidak mengambil jalan pintas ketika berkendara. "Walaupun lokasi tujuannya dekat, tapi kalau jalur searah ya mereka tetap mengikutinya," ujarnya.
Yazid menilai sosialisasi yang diinisiasi Dinas Perhubungan DIY perlu terus dilakukan di tengah masyarakat.
Khususnya yang melibatkan kalangan pelajar. Dia meminta pelajar SMA/SMK yang belum punya surat izin mengemudi (SIM) jangan memaksa mengendarai motor di jalan.
Pelajar Rentan Korban Lakalantas, Siswa SMAN 2 Wates Ciptakan Si Mole
Dalam diskusi interaktif itu juga diluncurkan inovasi Si Mole karya Juli Arna Tri Sundari. Pelajar SMAN 2 Wates, Kulon Progo, berhasil menciptakan rangkaian elektronik yang dinamakan Si Mole. Inovasi Si Mole bisa mematikan secara otomatis sein motor jika pengendara lalai.
Si Mole Smart Turning Signal On Motor Cycle memudahkan penggunaan lampu sen motor. Si Mole otomatis mematikan lampu sein setelah pengendara berbelok atau berpindah jalur sesuai waktu yang ditentukan.
Juli menceritakan, kelalaian pengendara mematikan lampu sein sering mengakibatkan lakalantas. “Ide menciptakan Si Mole ini karena saya melihat fakta di lapangan, banyak emak-emak sering lupa mematikan sein saat naik motor," ujarnya.
Siswa kelas XII ini kemudian mencari literasi. Hasil inovasinya itu berhasil memenangkan dalam pemilihan Pelajar Pelopor tingkat Nasional 2023.
"Waktu pembuatan dan riset sekitar dua bulan," tuturnya. Sistem kerja Si Mole mematikan lampu sein bila pengendara lupa mematikannya.
"Setelah mati, nanti ada suara peringatan yang mengingatkan pengendara mengembalikan saklar ke keadaan normal," jelasnya.
Inovasi itu menjadi solusi praktis meningkatkan keamanan pengguna jalan sekaligus meminimalkan terjadinya lakalantas.
Dalam sesi diskusi, Juli menjawab soal sekring dan relay dalam Si Mole sudah otomatis terpasang. Itu tertera di panduan pemasangan beserta fitur keamanan sebagai antisipasi bila terjadi konsleting. (oso/kus)