JOGJA - Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) di Piyungan Bantul ternyata masih dibuka. Namun, dibuka hanya secara insidental untuk menampung sampah-sampah dari kabupaten/kota yang mengalami darurat sampah. Secara teknis TPA Piyungan dinyatakan sudah penuh namun karena proses dekomposisi maka masih terdapat ruang untuk pembuangan sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo mengatakan karena kondisi mendesak, maka sampai hari ini TPA Piyungan masih dibuka secara insidental. Hal itu dibuktikan dengan Kabupaten Bantul, Kota Jogja dan daerah lain yang mendeklarasikan darurat sampah.
"Begitu ada tumpukan sampah liar ini jadi bagian yang harus diselesaikan," ujarnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (24/7/2024).
Setelah mengecek kondisi di lapangan, pihaknya mengatakan masih ada ruang di TPA Piyungan karena dekomposisi sampah yang mengakibatkan penurunan. Kesempatan tersebut lalu dimanfaatkan setiap daerah yang mengalami darurat untuk membuang sampah.
"Seperti kemarin itu ada 150 ton dari Bantul dibawa ke sana (Piyungan), Sleman 180 ton juga hari Selasa," tuturnya.
Ia mengatakan terakhir menerima informasi bahwa sebanyak 12 depo di Kota Jogja telah dikosongkan. Menurutnya, total sampah yang dikirim ke TPA Piyungan dari Kota Jogja kurang lebih seberat 4.000 ton secara bertahap.
"Kalau bicara daya tampung, Piyungan umur teknisnya sudah penuh, tapi ada ruang karena dekomposisi tadi," jelasnya.
Ia juga terus memantau kondisi TPA Piyungan khususnya terkait kuota atau ruang penumpukan sampah. Apabila TPA Piyungan sudah benar-benar full maka berarti sudah tidak bisa menampung sampah lagi.
"Kalau masih ada ruang dan masih darurat bisa (dibuka) sambil tunggu kesiapan TPS di setiap daerah," ujarnya.
Baca Juga: Masa Depan Ben Chilwell dan Beberapa Pemain Kunci Chelsea Belum Pasti Dibawah Naungan Enzo Maresca
Beberapa daerah yang telah menyurati Pemprov DIY terkait bantuan pembuangan sampah ke TPA Piyungan di antaranya Kota Jogja, Sleman, dan Bantul. Namun, pihaknya belum bisa memastikan maksimal jumlah kuota penerimaan sampah ke TPA Piyungan.
"Ya kalau dari surat Bupati Bantul yang ke pak Gubermur itu mintanya 1.000 ton sampai akhir Juli. Kemarin itu baru 150 ton dari Bantul yg dibuang ke Piyungan," jelasnya.
Kabupaten Sleman meminta kuota yang hampir sama dengan Bantul yakni 1.000-1.500 ton. Sampai saat ini Sleman baru membuang sekitar 180 ton dan tidak disampaikan sampai kapan. Namun, untuk Kota Jogja tidak disampaikan secara detail berapa kuota pembuanganya.
"Kota 4.000 ton (sudah ke TPA Piyungan) tapi tidak minta kuota berapa, hanya sampai depo kosong," tandasnya.
Sementara itu Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan pembangunan tiga TPST sedang dalam proses penyelesaian. Tiga tempat pengolahan sampah yakni TPST Dingkikan, Modalan, dan ITF Bawuran.
"Dingkikan kapasitasnya 60 ton, Modalan 50 ton dan ITF Bawuran 50 ton dan masih bisa dikembangkan," ujarnya.
Ia menargetkan pada bulan September ketiga TPST di Bantul sudah beroperasi semuanya. Maka dari itu, hingga saat ini pihaknya masih memanfaatkan dibukanya TPA Piyungan.
"Sementara waktu saja, karena di sana tidak ada pengolahan atau pemilihan sampah," tuturnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin