RADAR JOGJA - Pasar tradisional sering dipandang sebelah mata sebagai tempat belanja yang kotor, bau, padat dan berbagai hiruk pikuknya. Namun, Pemkot Jogja perlahan mengubah imaji negatif itu dengan merenovasi sejumlah pasar. Misalnya Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman, dan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy).
Hasilnya, sejumlah pasar menjadi tak kalah menarik layaknya kafe, sehingga bisa jadi tempat nongkrong kaum muda. Sajian makan enak di dalam pasar pun kian diminati di Kota Jogja. Tak hanya menyajikan makanan tradisional, salah satu tempat makan yang kekinian juga berada di dalam pasar tradisional.
Salah satunya ada di Pasar Kranggan yang terletak tepat di jantung Kota Jogja. Di dalam pasar yang berada tak jauh dari Tugu Pal Putih itu, terdapat sejumlah kedai yang ramai diminati kawula muda.
Citra tua Pasar Kranggan berubah menjadi modern. Salah satunya berkat kehadiran The French Press Kopi Warung atau TFP Kopi Warung yang menyajikan menu barat dengan harga miring pada 2019. Anak muda menjadi senang nongkrong di sana.
Lama-kelamaan, ruko kosong berganti dengan kedai unik lain yang makin ramai setelah pandemi. Sebut saja Steak Up, Kedai Terang Bintang, Roti Jala & Ci Cong Fan Tanah Melayu, dan Bake Me to the Moon.
Salah seorang pelaku kuliner yang bernaung di Pasar Kranggan, Wisnu Nugroho mengatakan, ia dan temannya sengaja membuka Kedai Terang Bintang di Pasar Kranggan karena melihat potensi besar di tempat itu untuk memulai sebuah usaha kuliner.
Wisnu tak hanya ingin menonjolkan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan. Tapi juga memberi pengalaman makan yang berbeda. Mulai dari konsep kedai, pemilihan lagu yang mayoritas merupakan lagu lama, juga suasana makan di pasar tradisional. “Tujuan kami make pasar great again. Jadi, orang nggak sungkan lagi buat ke pasar,” katanya Minggu (21/7).
Ia menilai, Pasar Kranggan cukup berpotensi untuk menjadi lokasi bisnis makanan. Apalagi beberapa tenant yang lebih dulu membuka usaha makan di Pasar Kranggan cukup ramai dan laris.
Menurutnya, lokasi Pasar Kranggan di Jalan Diponegoro itu cukup strategis. Hanya perlu dipoles untuk mendapatkan konsep sebagai tempat usaha. “Harapannya Pasar Kranggan bisa menjadi tujuan nongkrong bagi anak muda di Jogja,” ujar Wisnu.
Baca Juga: Pasar Kangen di TBY Dikunjungi 187.500 Orang, Omzet 10 Hari Hampir Rp 3 Miliar
Pelaku kuliner lain, Banny Kuswara mengatakan, ada keunikan tersendiri dengan membuka kuliner kekinian di pasar tradisional. Pasar tradisional menjadi wadah yang tak umum dalam menjalani UMKM. Sebab menu yang kedainya jajakan juga tidak umum dijual di pasar. “Rasanya berbeda menyuguhkan kuliner kekinian di lokasi yang tradisional,” ucap pemilik kedai Bake Me to the Moon ini.
Menurutnya, sebagian besar pengunjung yang datang memang mencari nilai yang ditawarkan di lantai dua Pasar Kranggan. Pelanggan bukan hanya menikmati hidangan yang lezat, tapi sekaligus dapat nongkrong di tengah lokasi dengan aktivitas tradisional. “Orang bisa datang sekalian berwisata. Penjualan digital di sini juga strategis,” jelasnya.
Ia menilai, konsep unik yang diusung para pelaku kuliner di lantai dua Pasar Kranggan menghadirkan perubahan stigma pada pasar tradisional. Menurutnya, sajian berkelas dengan suasana pasar rakyat memiliki nilai jual lebih. Terutama untuk menggaet kawula muda generasi Z dan milenial.
“Kami coba untuk mengubah stigma, sehingga pasar bisa jadi pusat kuliner. Tentu dengan penataan yang baik, ditambah konsep menu yang matang,” beber Banny.
Sementara itu, pelaku kuliner lain, Fikar menyebut, lapak miliknya merupakan salah satu pemain baru di lantai dua Pasar Kranggan. Sebelumnya, kedai tempatnya bekerja laris menjajakan bubur. Namun, setelah berganti menu menjadi bakmi, kedainya masih tetap stabil dan laris.
"Di sini memang banyak anak muda seperti pelajar atau mahasiswa. Lokasinya strategis dan representatif,” kata karyawan di Bakmie Kinkin ini.
Menurutnya, konsep dari para pelaku kuliner di lantai dua Pasar Kranggan berhasil mengubah pandangan terhadap pasar tradisional. Ia menilai, menggabungkan dua hal yang bertolak belakang dapat memiliki nilai lebih. Seperti makan di kedai modern namun berada di tengah suasana pasar rakyat. “Hal-hal seperti itu kan menarik buat anak muda sekarang. Karena mereka cenderung mencari suasana,” ujar Fikar.
Meski begitu, ia tetap merasa butuh perhatian dari pemerintah dan pengelola pasar. Terutama dalam pemeliharaan pasar. Demi kenyamanan pengunjung.
"WC-nya lebih baik ditambah karena di lantai dua ini cuma ada satu di ujung barat. Kasihan yang di ujung timur, jauh kalau mau ke WC. Lantainya juga banyak yang pecah-pecah. Kalau bisa minta diperbaiki," harapnya. (tyo/laz)