RADAR JOGJA - Permasalahan sampah, khususnya jenis organik menjadi salah satu hal yang belum bisa terselesaikan di Kota Jogja. Maggot Ndalem Sawo mungkin bisa menjadi salah satu inspirasi. Di tempat ini 1,5 ton sampah organik mampu diolah.
Maggot Ndalem Sawo merupakan salah satu tempat pengolahan sampah organik di Kota Jogja. Lokasinya berada di dalam gang sempit, tepatnya di Gang Sawo, Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis.
Meskipun lokasinya agak ndelik, nyatanya Maggot Ndalem Sawo punya andil besar terhadap penyelamatan lingkungan. Khususnya dalam upaya mengolah sampah organik yang selama ini masih menjadi jenis sampah mayoritas di Jogja.
Pengelola Maggot Ndalem Sawo Satrio Dimas Herlambang mengatakan, pengelolaan sampah miliknya mampu mengolah sampah organik sebanyak 500 kg per hari. Jika dikalikan sebulan, mampu sekitar 1,5 ton.
Metode yang digunakan untuk mengolah sampah organik menggunakan maggot. Yakni larva dari lalat tentara hitam atau yang akrab disebut sebagai black soldier fly (BSF).
Adapun maggot yang bertugas mengolah sampah organik di Ndalem Sawo ditempatkan pada ruangan khusus seperti kamar. Kemudian diwadahi pada puluhan nampan. Satu nampan berisi ribuan maggot.
"Kami mulai mengembangkan pengolahan sampah organik sejak 2022 lalu. Kemudian resmi mendirikan Maggot Ndalem Sawo di tahun 2024," ungkap Satrio saat ditemui Selasa (16/7) lalu.
Namun siapa sangka awal berdirinya Maggot Ndalem Sawo justru berawal dari terbengkalainya rumah. Dulunya, lokasi itu merupakan rumah milik keluarga Satrio. Namun kurang terurus karena dulu dia dan orangtuanya berdomisili di Jawa Timur.
Rumah Ndalem Sawo hanya setahun sekali didatangi, itu pun sekadar membersihkan rumput liar. Namun karena memiliki kepedulian terhadap lingkungan, akhirnya Ndalem Sawo dikembangkan menjadi tempat pengolahan sampah organik.
Satrio tidak menampik awal mula mengembangkan usaha pengolahan sampah organik dengan maggot memang bukan hal mudah. Sebab lokasinya yang berada di tengah permukiman pada awalnya kerap menjadi bahan gunjingan.
Namun seiring waktu, nyatanya proses pengolahan sampah menggunakan maggot justru tidak menimbulkan bau. Bahkan kini banyak masyarakat sekitar yang memanfaatkan tempat itu untuk mengolah sampah organiknya.
Sampai saat ini, kata Satrio, hampir semua warga di Kelurahan Cokrodiningratan menggunakan jasa pengolahan sampah organik miliknya. Selain itu Maggot Ndalem Sawo juga menangani sampah organik dari Pasar Kranggan.
Di sisi lain, melalui kegiatan budi daya maggot Ndalem Sawo juga memiliki bidang usaha lain. Yakni penjualan telur lalat maggot BSF, penjualan maggot untuk pakan unggas, dan yang utama pengolahan sampah organik.
"Selain itu, di Ndalem Sawo juga sering menjadi lokasi studi tentang pengolahan sampah. Mulai sejumlah sekolah hingga perguruan tinggi,” tambah Satrio. (laz)