RADAR JOGJA - Salah satu sekolah yang melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dengan cara berbeda adalah SDN Jetis 1 Jogja. Para siswanya "diungsikan" sementara ke SDN Jetis 2 dan SDN Cokrokusuman karena SDN 1 Jetis sedang melakukan renovasi bangunan.
Guru Pendidikan Agama Kristen SDN Jetis 1 yang juga pelaksana MPLS Gatot Isriadi mengakui, proses MPLS para siswanya harus dialihkan ke sekolah lain terdekat. "Tak hanya MPLS, nanti siswa kami juga akan ikut KBM di dua sekolah tersebut," katanya kepada Radar Jogja Senin (15/7).
Ia menyampaikan, SDN Jetis 1 memiliki total 12 rombel, terbagi dalam kelas A dan B di tiap-tiap kelas. Sebanyak 6 kelas dipindah ke SDN Jetis 2 dan 6 kelas sisanya ke SDN Cokrokusuman.
"Kelas 1 sampai 6A di Jetis 2, lalu 1 sampai 6B di Cokrokusuman. Guru-guru kami juga ikut ke sana. Jadi nanti kelasnya digabung. Siswa baru 2 rombel, kelas 1A dan 1B per kelas 28 siswa. Rencana di sekolah itu sampai renovasi selesai, perkiraan akhir tahun ini," tambahnya.
Gatot mengungkapkan, meskipun dalam praktiknya melibatkan dua sekolah lain, para guru SDN Jetis 1 juga secara aktif terlibat dalam MPLS. Dari sejak persiapan hingga pelaksanaan yang rencananya selama 10 hari. "MPLS total 10 hari. Kami diskusi programnya juga bersama-sama, tiga sekolah sekaligus," paparnya.
Ia berujar, pemindahan KBM sementara yang dilakukan SDN Jetis 1 ini juga telah melibatkan Disdikpora Kota Jogja dalam prosesnya. "Kami libatkan dinas juga dan selama beberapa bulan ke depan guru-guru kami mobile di dua sekolah itu. Untuk yang stay di sini cuma staf admin," paparnya.
Terpisah, salah satu orang tua siswa yang anaknya bersekolah di SDN Cokrokusuman Nurul Mariani berujar, secara pribadi ia tidak mempermasalahkan adanya kelas gabungan itu. Selama proses KBM bisa benar-benar efektif dijalankan. "Sekarang kan dua kelas digabung, saya lihat tadi bisa di-handle karena gurunya juga jadi dobel," ujarnya.
Pada kesempatan itu Nurul juga mengantar dan menunggui sang anak yang baru masuk kelas 1. Dengan adanya penggabungan kelas itu ia justru berharap sang anak bisa lebih mudah beradaptasi. "Sisi positifnya, temannya jadi tambah banyak. Dia juga jadi cepat bergaul," papar perempuan asal Gondolayu Lor ini. (iza/laz)