BANTUL - Akademisi Jogja menyoroti gaya hidup konsumtif pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Berdasarkan keterangan yang dihimpun, mereka bukannya sibuk menjual produk tapi justru lebih sering membeli (check out) barang.
Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat media sosial (medsos) dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Puthut Ardianto.
Data We Are Social mengenai penggunaan internet berbanding lurus dengan realita.
Para pelaku UMKM di Dlingo, Bantul misalnya. Sebagian besar mereka memiliki akun medsos, tapi tidak digunakan secara maksimal.
"Bukan sibuk jualan tapi malah check out barang," kata Puthut Ardianto pada Minggu (13/7/2024).
Mengutip data We Are Social, kata Puthut, lama waktu penggunaan internet masyarakat di Indonesia dalam sehari rata-rata 7 jam 35 menit.
Pengguna sosmed terbanyak digunakan untuk silaturahmi, mengakses hal-hal yang trending, mencari informasi, membaca berita, dan menemukan produk untuk dibeli yakni 36,5 persen.
"Ada (aktivitas) jualan tapi tidak terbaca, karena saking sedikitnya (aktivitas menjual)," ujarnya.
Jika bicara 200 juta sekian populasi penduduk di Indonesia, dan aktivitas menjual hanya sebesar 10 persen maka tidak terbaca oleh data. Artinya sangat sedikit sekali orang memanfaatkan medsos untuk menjual produknya.
"Padahal pelaku UMKM memiliki produk. Itu jika diposting dengan modal pengetahuan dasar metode pengambilan gambar dampaknya berbeda," ujarnya.
Di hadapan pelaku UMKM tersebut pihaknya kemudian berbagi pengetahuan tentang cara pengoperasian fitur kamera smartphone.
"Misalnya kalau 16x9 untuk bikin story, posting 3x3 dan seterusnya," ujarnya.
Kemudian kualitas gambar hendaknya menggunakan resolusi tinggi. Pengguna juga harus memperhatikan cara pengambilan foto atau video.
"Yang bisa diposting kegiatan mereka sehari-hari, supaya (memperkuat) personal branding dan istikomah," ucapnya.
Faktanya, dalam data We Are Social, masyarakat pada umumnya membuka internet nonton drama Korea (drakor), scrolling YouTube, Tiktok dan check out barang.
"Check out budaya konsumtif. Jualan menempati urutan rendah, tapi untuk purchase atau membeli sangat tinggi," kata Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, UMY.
Pihaknya berharap ke depan, pelaku UMKM memanfaatkan medsos dengan bijak. Hindari penyebaran hoaks dan informasi yang salah.
"Jangan melakukan spam atau promosi berlebihan," ucapnya.
Hormati privasi dan hak cipta orang lain. Gunakan bahasa yang sopan dan profesional. Menjaga reputasi diri dan usaha. Menghindari konflik dan masalah hukum.
Sementara itu, salah seorang pelaku UMKM di Bantul Hartini tidak menampik, penggunaan medsos dalam mendukung pengembangan usaha masih minim.
"Itu karena sebelumnya kami minim pengetahuan. Pelaku UMKM yang lain juga mengakui, bukannya sibuk jualan tapi ju stru check out barang," kata Hartini. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin