Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Miliki Nilai Ekonomi Tinggi, Petani Kaliagung Sentolo Tanam Benguk serentak

Anom Bagaskoro • Minggu, 14 Juli 2024 | 06:56 WIB
Proses pengolahan biji benguk yang dilakukan oleh ibu PKK (Anom Bagaskoro)
Proses pengolahan biji benguk yang dilakukan oleh ibu PKK (Anom Bagaskoro)

RADAR JOGJA - Di balik cita rasa kelezatan Tempe Sengek khas Kulon Progo, terdapat perjuangan para petani benguk di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo.

Lantaran di kalurahan ini, benguk menjadi komoditas utama pertanian dan perdagangan.

Kalurahan ini dapat berdaya melalui tanaman yang seringkali disebut mucuna.

"Dulunya kalurahan kami merupakan lokus kemiskinan ekstrem," ucap Lurah Kaliagung Sugeng Nugroho, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (12/7).

Sugeng menjelaskan, saat dirinya menjabat sebagai lurah di 2021 lalu, kalurahannya berstatus miskin ekstrem. Lantaran, masih banyak masyarakatnya yang hidup di ambang garis kemiskinan.

Sehingga, kalurahan itu memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus dibenahi.

Awal ide memunculkan komoditas benguk menjadi salah satu produk unggulan, terjadi saat melihat potensi wilayah Kaliagung.

Banyak lahan pertanian dan pekarangan yang tidur. Sehingga pihak kalurahan berupaya memanfaatkan lahan tidur itu.

Saat itu benguk belum menjadi opsi pilihan utama komoditas untuk ditanam di lahan tidur. Lantaran, benguk masih dipandang sebelah mata oleh petani. Melalui berbagai sosialisasi yang dilakukan kalurahan, membuat petani akhirnya melihat potensi benguk.

"Potensi benguk cukup besar, tak hanya memiliki nilai ekonomis tinggi tetapi juga pasar yang luas," ucapnya.

Potensi benguk terlihat dari nilai ekonomis yang tinggi.

Rerata harga benguk berkisar di Rp 18 ribu per kg, dan sempat menembus harga Rp 40 ribu. Perawatan tanaman benguk juga tak membutuhkan biaya operasional tinggi. Lantaran, benguk memiliki karakteristik tanaman tahan hama, dan hanya cukup dipupuk menggunakan pupuk kotoran hewan.

Dari segi permintaan pasar, tren pasar terus mengalami kenaikan. Hal ini, berkaitan dengan olahan sengek benguk yang menjadi makanan khas Kulon Progo. Terlebih olahan benguk telah meluas, yang menimbulkan meluasnya pasar benguk. "Kami mengawali dengan membuka lumbung benguk seluas 27 hektare di enam pada 2022," tuturnya.

Sugeng menjelaskan, pembukaan lumbung benguk menggunakan APBKal. Setiap lahan tidur yang dimiliki masyarakat akan mendapat bibit benguk. Masyarakat yang mendapat bibit benguk akan melakukan perawatan dan pemanenan.

Dari situlah Kaliagung mulai naik kelas. Lantaran, saat panen raya pertama kali, banyak petani menerima manfaatnya secara langsung. Yang mana dengan pertanian yang ada sebagian besar buruh tani dan pertani mampu memperbaiki ekonominya. "Sekarang lahan yang ditanami benguk terus meluas, ada 30 hektare lahan tanam," ucapnya.

Selama dua tahun itu, Kalurahan Kaliagung mulai bertransformasi dari predikat miskin ekstrem menjadi sentra penghasil benguk. Hingga kini terdapat 300 orang yang menggantungkan hidupnya melalui pertanian benguk. Seakan tak puas dengan hasil yang didapat, Kalurahan Kaliagung terus berinovasi. Kalurahan ini, kembali menggagas hulu hilir produk benguk. Konsep ini menitikberatkan, keberlangsungan produksi benguk.

Tak hanya sektor pertanian, Kalurahan Kaliagung juga mengolah benguk menjadi berbagai macam produk. Selain tempe sengek, kalurahan ini membuat keripik benguk, dan olahan lainnya. Hal inilah yang menciptakan hulu hilir produk benguk. Terlebih melalui program hulu hilir ini, memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Tentunya hal ini, memberikan dampak ekonomi yang bisa dinikmati masyarakat. Serta berdampak dengan perkonomian desa. (gas/pra)

Editor : Satria Pradika
#tempe #Tempe Sengek