RADAR JOGJA - Permainan gubuk-gubukan atau rumah-rumahan sangat menjadi primadona bagi kalangan orang yang lahir sebelum tahun 90-an. Permainan ini adalah upaya membuat konstruksi rumah dengan berbagai bahan di sekitar kita. Selama ada atap dan terdapat alas untuk duduk, jadilah sebuah rumah-rumahan.
Misalnya membuat rumah-rumahan menggunakan dua kursi atau dua meja yang memanfaatkan kain jarak sebagai tembok atau atap. Bermain rumah-rumahan memantik imajinasi anak berpikir kreatif. Pengamat permainan anak Tri Yuliyanti Setyasari S.Sn menjelaskan, gubuk-gubukan memposisikan anak dapat menjadi ibu rumah tangga.
Permainan rumah-rumahan ini menumbuhkan karakter untuk mengedukasi anak berlatih mandiri dan punya tanggung jawab. Itu lantaran anak harus menyelamatkan rumah itu agar tidak ada celah bocor. Bukan berarti rumah dengan konstruksi berat, tetapi membangunnya dengan alat-alat yang tersedia.
"Saya mengamati semakin sedikit karena ibu mereka tidak mengedukasi anaknya untuk meningkatkan kreativitas,” katanya (12/7). Apalagi keberadaan gawai menambah distraksi sehingga permainan rumah-rumahan masa silam terpinggirkan. Anak yang memegang gawai membuat orang tuanya merasa aman, sehingga hanya berkutat dari telepon pintar.
Perempuan yang juga Ketua Taman Kesenian Tamansiswa Jogjakarta ini mengungkapkan, kondisi itu menimbulkan kemunduran karakter sosial pada anak-anak sekarang. “Anak-anak sekarang cenderung individualistis dan egois karena sering bermain gawai,” tambahnya. Tidak ada kegiatan sosial yang intensif dilakukan dengan teman sebayanya.
Gawai menggeser eksistensi permainan rumah-rumahan. Meski memang ada beberapa permainan di gawai yang menunjang seperti permainan rumah-rumahan. Ada aplikasi di gawai terkait bermain rumah-rumahan. Tetapi itu semua dilakukan di gawai secara sendiri, tanpa dengan teman sebayanya.
Selain itu, permainan di gawai yang bisa main bareng dengan interaksi hanya terbatas pada suara saja. Tetapi tidak face to face atau bertemu langsung. “Hubungan sosial itu akan terlaksana dengan penuh ketika berhadapan atau face to face,” bebernya.
Dari permainan rumah-rumahan dapat menunjang seorang anak untuk karakter mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu ada juga interaksi sosial bersama teman-temannya. Mengasah kreativitas anak dan inovasinya dalam membangun rumah.
“Karena harus berpikir membuat rumah-rumahan dan bertanggung jawab untuk membereskan hasil dari main rumah-rumahan itu,” tandasnya. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika