JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut ada fenomena La Nina lemah pada musim kemarau tahun ini.
Kondisi itu diprediksi dapat mengakibatkan adanya intensitas hujan yang cukup sering selama puncak musim kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan pengamatan gejala fisis dan dinamika atmosfer-laut terkini menunjukkan adanya pergerakan angin di wilayah Indonesia yang bertiup dari timur ke tenggara.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya angin muson Australia yang semakin menguat.
Adanya kondisi itu, terang Reni, juga menunjukkan potensi fenomena La Nina lemah yang diprediksi terjadi dari periode bulan Juli hingga akhir tahun mendatang.
Sementara untuk Madden Julian Oscillation (MJO) atau fenomena yang berpengaruh terhadap curah hujan, berada di wilayah timur Indonesia dengan intensitas lemah.
“Dampak dari fenomena La Nina lemah pada musim kemarau tahun ini diprediksi mengalami sifat hujan atas normal, fenomena tersebut menyebabkan potensi terjadinya hujan pada periode musim kemarau,” ujar Reni dalam keterangannya, Kamis (11/7/2024).
Lebih lanjut, Reni mengungkapkan, bahwa dalam tiga bulan ke depan curah hujan di wilayah Yogyakarta juga akan terus terjadi.
Rinciannya, untuk bulan Juli diprediksi berkisar 0-50 mm atau masuk kriteria rendah.
Kemudian untuk bulan Agustus, kemungkinan lebih rendah karena berkisar antara 0-20 mm.
Sementara untuk bulan September diprediksi masih masuk kategori rendah namun potensi hujannya lebih tinggi karena kisarannya mencapai 0-100 mm.
Sementara untuk kondisi selama musim kemarau, Reni mengungkap, ada potensi hujan dari bulan Mei sampai September yang masuk kategori di atas normal.
Istilahnya masuk sebagai kemarau basah.
Sementara untuk puncak musim kemaraunya diprediksi berlangsung dari bulan Juli hingga Agustus.
Reni melanjutkan, musim kemarau tahun ini juga berdampak pada potensi bencana kekeringan meteorologis, kebakaran, hutan, kekeringan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
Sehingga dia pun berharap agar selama musim kemarau ini para petani mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak terjadi gagal panen.
Serta untuk pemerintah daerah diminta untuk menerapkan kebijakan sesuai kondisi musim yang terjadi saat ini.
“Untuk puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan September dasarian satu hingga dasarian tiga,” ungkapnya.
Terkait dengan dampak musim kemarau di Kota Jogja, Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Intan Dewani menyebut, ada potensi pencemaran udara.
Yakni berupa peningkatan debu halus di udara.
Kondisi tersebut, terang Intan, terpantau dari pantauan Particulate Meter (PM) 2,5 yang menyentuh angka 50 selama bulan Febuari hingga April.
Namun setelah memasuki musim kemarau atau dari periode Mei hingga Juni PM 2,5 naik menjadi 60.
“Untuk saat kategori PM 2,5 menjadi sedang,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin