RADAR JOGJA - Dampak persoalan penanganan sampah di Jogja yang belum kunjung usai merembet ke sektor pariwisata. Sejumlah pelaku wisata bahkan mendapatkan keluhan dari wisatawan domestik dan mancanegara soal sampah.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat, okupansi hotel di DIY pada Juni rata-rata 70 hingga 80 persen. Sementara di wilayah ring 1 seperti Malioboro dan sekitarnya, mencapai 90 persen.
Meski begitu, PHRI DIY khawatir okupansi hotel di Juli akan menurun. Sebab penanganan sampah di DIY masih belum menemukan solusi. Kekhawatiran itu juga didukung dengan adanya wisatawan yang mengeluh soal sampah. Apalagi wisatawan mancanegara sudah mulai berkunjung ke Jogja pada Juni ini.
Misalnya, wisatawan mancanegara yang menginap di Prawirotaman sendiri berjalan kaki jika hendak ke Malioboro. “Waktu lewat di Jalan Brigjen Katamso, mereka mengeluh karena di sana ada depo sampah,” ujar Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono, Selasa (9/7).
Sementara wisatawan domestik juga mengeluhkan sampah yang tertumpuk di jalanan. Seperti yang berada di Jalan Mayor Suryotomo, Danurejan. “Ini bikin kami waswas,” kata Deddy.
PHRI DIY berharap Pemprov DIY segera menemukan solusi terbaik penanganan sampah. Sebab, industri pariwisata daerah lain, menurut Deddy, sudah mulai berbenah. Deddy khawatir wisatawan akan mengalihkan tujuannya ke daerah lain karena persoalan sampah yang belum ditangani dengan baik.
Selain itu, anggota PHRI DIY, kata Deddy, wajib mengelola sampah secara mandiri. Beberapa hotel bahkan melibatkan masyarakat sekitar untuk mengelola sampah. Sebab mereka wajib memiliki standar operasional prosedur. Apabila tidak punya, maka tidak mendapat sertifikasi. Kalau ada hotel anggota yang ketahuan buang sampah di pinggir jalan, akan kami tegur. “Bahkan bisa kami coret dari keanggotaan,” tegas Deddy.
Plt Ketua Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY Edwin Ismedi Himna mengatakan, masalah sampah sudah sangat mengancam kenyamanan wisatawan. Banyak keluhan para turis soal pemandangan tumpukan sampah di berbagai titik.
Beberapa kali Asita DIY mendapat keluhan dari para turis setelah melihat tumpukan sampah di titik yang dilintasinya.“Sudah banyak keluhan karena (sampah) kelihatan. Kelihatan sekali sampah menumpuk seperti itu. Belum lagi aromanya yang sangat mengganggu," ucap Edwin.
Edwin menyebut, fenomena tersebut menjadi citra buruk bagi Jogja. Lantaran sampah mencuat tepat saat musim kunjungan wisatawan. Menurutnya dari tren selama ini, sepanjang Juni hingga Agustus merupakan puncak kunjungan turis dari Eropa.
Ini jadi promosi yang tidak baik. “Mereka bisa saja menyampaikan ke teman-teman di negaranya kalau kondisi di Jogja sekarang seperti ini," lontarnya. (tyo/din)