JOGJA - Persaingan perguruan tinggi di Jogja untuk menggaet mahasiswa baru (maba) cukup ketat, terutama bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sejumlah cara dilakukan demi menarik minat maba, salah satunya melalui strategi multi level marketing (MLM).
Strategi MLM tersebut biasanya dilakukan kampus yang belum mengantongi peringkat akreditasi tertinggi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Berdasarkan data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Jogjakarta, dari 100 PTS di Jogja, baru delapan kampus terakreditasi unggul. PTS dengan predikat akreditasi unggul masing-masing UII, UMY, UAD, UNISA, ATMAJAYA, Poltliteknik YKPN, Sanatadharma dan UKDW.
Sebagian besar sisanya, atau 92 kampus masih terus berjuang menaikkan status kampus dan menjadikan Program studi (prodi) sebagai magnet dalam mempertahankan serta memperkuat eksistensi.
Kondisi itu diakui oleh bagian penerimaan mahasiswa baru (PMB) sejumlah PTS di Kota Jogja dan sekitarnya. Tanpa inovasi dan terobosan-terobosan, menurutnya bukan tidak mungkin nama besar kampus runtuh akibat tidak dilirik calon mahasiswa baru.
"Apa lagi kampus-kampus besar juga semakin gencar dengan program-program unggulan," kata seorang marketing PTS di Jogja yang meminta namanya tidak disebut pada Minggu (7/7/2024).
Lalu bagaimana nasib PTS, kata dia, selain menggencarkan promosi, bagian marketing all out menjaring mahasiswa baru. Diantara cara itu ditempuh dengan meniru strategi MLM.
"Satu orang mengajak mahasiswa baru lainnya dapat fee, begitu seterusnya," ujarnya.
Jika berhasil mengajak satu mahasiswa baru sampai pada tahapan mendaftar, dapat fee atau bonus mulai dari Rp 600 ribu sampai dengan Rp 1 juta.
"Tapi bonus ini tidak berlaku untuk mahasiswa baru program beasiswa lho ya," jelasnya.
Berdasarkan pengalaman, strategi MLM cukup berhasil. Pernah tercatat satu orang bisa mengantongi belasan juta rupiah, karena berhasil merekrut belasan mahasiswa baru.
"Selain mengejar kuantitas, tapi kami juga menjamin kualitas. Ini hanya bagian dari strategi saja," ungkapnya.
Bagian marketing PTS lainnya menyebut, stretegi mencari mahasiswa baru yang dilakukan mirip dengan pola kampanye calon kepala daerah (cakada) maupun calon legislatif (celeg).
"Ketika mendekati masyarakat sosialisasi, menawarkan program dan yang lain," kata dia.
Mengenai strategi tebar bonus bagi pihak yang berhasil mengajak mahasiswa baru untuk masuk ke perguruan tinggi, dia mengakui.
"Di kami, bisa mengajak satu mahasiswa baru fee-nya sebesar Rp 1 juta. Makanya, saya mengingatkan mahasiwa lama agar mengajak temannya supaya ada pemasukan," bebernya.
Sebelumnya, Kepala LLDIKTI Wilayah V Jogjakarta, Setyabudi Indarto mengatakan, perubahan dunia industri yang bergerak begitu cepat mengharuskan PTS untuk mendesain kebutuhan di lapangan dengan proses pembelajaran.
"Jika tidak dilakukan, prodi yang ada tidak relevan dengan tuntutan zaman," kata Setyabudi Indarto.
Kalau PTS tidak segera beradaptasi dengan perubahan dunia pihaknya khawatir, antara kompetensi keilmuan dengan jenis pekerjaan tidak sinkron. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin