RADAR JOGJA – Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DIY mencatat belanja APBN DIY mencapai Rp 9,38 Triliun sampai dengan Mei 2024. Angka itu tumbuh 11,29 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.
Kepala Kanwil DJPb DIY Agung Yulianta mengatakan, hal itu dipengaruhi oleh kenaikan signifikan Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar 18,95 persen.
Terutama pada Belanja Barang yang dipengaruhi oleh kegiatan Dukungan Pelayanan Kesehatan Unit Pelaksana Teknis Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes. Jumlahnya mencapai Rp 357,57 Miliar.
Agung menyebut, secara umum untuk belanja sudah lebih di atas 36 persen sampai Mei 2024. APBN di DIY, sangat berperan terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pihaknya berharap capaian kinerjanya lebih bagus dari sebelumnya.
“Secara keseluruhan capaian kinerja APBN DIY sudah di kisaran 40 hingga 45 persen saat ini," katanya dalam jumpa pers di Kantor DJPb DIY, Selasa (2/7/2024).
Agung menjelaskan, realisasi BPP keseluruhan sebesar Rp 4,38 Triliun atau 28,94 persen dari pagu belanja. Tumbuh 18,95 persen. Realisasi tersebut didorong oleh kinerja belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan belanja bantuan sosial yang keseluruhannya mencatatkan pertumbuhan.
Selain itu, dukungan APBN terhadap APBD melalui Transfer ke Daerah (TKD) dan Dana Desa juga turut mendukung kinerja APBN di DIJ. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKD-DD) tumbuh 5,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Secara nominal realisasi penyaluran TKD dan Dana Desa sebesar Rp 5,005 Triliun atau 47,62 persen dari alokasi. Pertumbuhan tertinggi komponen TKD DD terdapat pada Dana Alokasi Umum (DAU) yang mencapai 10,1 persen. "Kondisi ekonomi di Jogja dominan dipengaruhi oleh sektor pariwisata dan pendidikan," ucap Agung.
Belanja modal pun turut berkontribusi dengan peningkatan 19,52 persen yoy dengan realisasi yang mencapai Rp 612,44 Miliar atau 12,65 persen dari pagu belanja. Begitu pula dengan belanja bantuan sosial berupa pemberian beasiswa melalui KIP Mahasiswa.
Baca Juga: Kinerja APBN Tetap Terjaga, Realisasi Belanja APBN DIY Mencapai Rp 17,9 Triliun
Tumbuh 12,99 persen dengan realisasi Rp 10,51 Miliar atau 57,95 persen dari pagu belanja."Lebih baik dari tahun sebelumnya, hampir semuanya tumbuh terutama untuk realisasi belanja pegawai karena ada pembayaran THR dan gaji ke-13," ungkap Agung.
Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kemenkeu Parjiono mengatakan, pemda di lingkup DIJ perlu waspada terhadap gejolak global yang kepastian usainya belum menentu. Menurutnya, kondisi perdagangan dan investasi global yang melemah akibat naiknya jumlah sanksi dagang harus turut diwaspadai pemda.
"Apa yang terjadi di global berdampak ke nasional. Gejolak global menyebabkan perdagangan dan investasi global yang melemah,” ujarnya.
Ia menyebut, El Nino berkepanjangan juga mengganggu proses panen komoditas pangan. Lalu pasar keuangan domestik masih terdampak sentimen global tersebut.Menurut Parjiono, hal yang perlu diwaspadai adalah dampak El Nino terhadap inflasi.
Yakni tren harga beras yang meningkat dari musim kemarau panjang. “Saat ini, pemerintah membuat respons cepat dengan kebijakan stabilisasi pangan yang akan terus dilakukan," katanya. (tyo/din)
Editor : Satria Pradika