Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Alami Deflasi Dua Bulan Berturut-Turut, Harga Beras Jadi Penyumbang Tertinggi Deflasi Juni 2024

Gregorius Bramantyo • Rabu, 3 Juli 2024 | 02:45 WIB
ILUSTRASI BERAS: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog.
ILUSTRASI BERAS: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog.

 

RADAR JOGJA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami deflasi selama dua bulan berturut-turut. Pada Juni 2024, DIY mengalami deflasi sebesar 0,25 persen. Sebelumnya pada Mei 2024, DIY mengalami deflasi 0,08 persen. 

Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY menyebut beras menjadi komoditas utama penyumbang deflasi bulanan atau month-to-month (mtm) di DIY pada Juni 2024 dengan andil 0,13 persen. Hal ini terjadi karena pasokan yang masih tersedia di tengah masih berlangsungnya panen raya padi.

Deputi Kepala Perwakilan BI DIY Hermanto mengatakan, penyumbang utama deflasi yang terjadi di DIY adalah kelompok makanan dan minuman. Selain beras, deflasi juga disumbang oleh bawang merah dengan andil 0,03 persen mtm. Sejalan dengan pasokan yang masih terjaga kecukupannya. 

Kemudian telur ayam ras 0,03 persen mtm dan daging ayam ras 0,02 persen mtm. Harga telur ayam ras menurun disebabkan oleh normalisasi pasca lebaran dan mudik. “Penurunan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh harga stok pakan ternak, terutama jagung yang menurun,” ujar Hermanto, Selasa (2/7/2024).

Ia mengatakan, deflasi lebih dalam tertahan oleh meningkatnya harga pada seluruh kelompok komoditas. Harga cabai rawit meningkat 0,02 persen mtm dan cabai merah 0,01 persen mtm. “Kedua komoditas tersebut naik karena didorong oleh mulai terbatasnya pasokan pasca berakhirnya musim panen di sejumlah pemasok,” katanya.

Hermanto mengungkapkan, seragam sekolah anak turut menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen mtm. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya permintaan, seiring dengan memasuki tahun ajaran baru. Sementara dalam kelompok administered price, momen Idul Adha memicu peningkatan permintaan bahan bakar rumah tangga. "Sehingga mempengaruhi peningkatan harga," jelasnya.

Meski begitu, BI DIY memperkirakan inflasi DIY terus terjaga pada kisaran targetnya. Kondisi tersebut didukung oleh upaya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY dalam kerangka 4K. Yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) DIY 2024. "Komitmen BI, pemerintah, serta seluruh stakeholder dalam mencapai inflasi 2024 sesuai target sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen," ucap Hermanto.

Kepala Badan Pusat Statistik DIY Herum Fajarwati mengatakan, dengan adanya deflasi 0,25 persen, maka inflasi tahun ke tahun atau year-on-year (yoy) menjadi 2,35 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) sebesar 0,56. “Inflasi masih relatif rendah, masih terjaga pada kisarannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, inflasi tahun ke tahun pada Juni 2024 ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2024. Pada Juni 2024, inflasi (yoy) sebesar 2,35 persen. Sedangkan pada Mei 2024 sedikit lebih rendah, yaitu 2,28 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahun ke tahun pada Juni 2024 disumbang oleh perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 5,25 persen. Dengan andil inflasi 0,31 persen. Kelompok selanjutnya adalah makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 5,32 persen, dengan andil inflasi 1,44 persen. Untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini dipengaruhi oleh kenaikan harga emas. “Karena saat ini harga emas terus bergerak naik,” jelas Herum. (tyo/din)

Editor : Satria Pradika
#inflasi #DIY #bank indonesia #harga beras #deflasi #Daerah Istimewa Yogyakarta