Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sampai Mei 2024 Ada 1.101 Kasus ODGJ,  Gangguan Jiwa Rawan Diderita Kalangan Pelajar

Iwan Nurwanto • Kamis, 27 Juni 2024 | 16:40 WIB

ODGJ di Kota Jogja meningkat dari tahun lalu
ODGJ di Kota Jogja meningkat dari tahun lalu
RADAR JOGJA - Kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Jogja tergolong memprihatinkan.

Ironisnya, penyakit gangguan jiwa di kota pendidikan itu justru rawan diderita oleh kalangan pelajar.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Masyarakat Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Arumi Wulansari mengatakan, kasus ODGJ di Kota Jogja naik signifikan dibandingkan tahun lalu.

Sebab pada tahun 2023 lalu penderita gangguan jiwa mencapai 1.239 jiwa. Namun di tahun ini, hingga pertengahan Mei sudah tercatat 1.101 penderita.

Dia membeberkan, kasus gangguan jiwa di Kota Jogja itu merupakan pasien yang ditangani pada puskesmas-puskesmas.

Sehingga kemungkinan besar juga merupakan pasien lama dan atau pasien gangguan jiwa yang berasal dari luar daerah.

“Data itu merupakan data tahunan pasien ODGJ yang berkunjung ke puskesmas di Kota Jogja,” ujar Arumi saat dikonfirmasi, Rabu (26/6).

Arumi membeberkan, penyebab kasus gangguan jiwa di Kota Jogja juga beragam. Bisa dikarenakan permasalahan psikologis maupun genetik.

Sementara untuk kategori penderitanya juga berasal dari kalangan remaja hingga lansia.

Dia pun menyebut, kalau kalangan remaja di Kota Jogja juga merupakan kategori usia yang rawan menderita penyakit gangguan jiwa.

Sebab dalam usia-usia tersebut secara psikologis sedang dalam tahap pencarian jati diri.

Sehingga faktor keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh untuk memicu penyakit gangguan jiwa.

Baca Juga: Elektabilitas Heroe Poerwadi Kembali Unggul, PKB Kota Rilis Hasil Survei: Tak Ingin Masyarakat Salah Pilih

“Kalau penyebab gangguan jiwa remaja sebagian besar karena permasalahan pribadi.

Seperti putus cinta, broken home, komunikasi dengan orang tua yang tidak harmonis, serta adanya bullying baik langsung maupun cyber bullying,” terang Arumi.

Arumi menambahkan, dalam penanganan ODGJ peran keluarga juga sangat penting.

Sebab tidak sedikit ditemukan kasus keluarga yang memiliki anggota penderita gangguan jiwa justru disembunyikan.

Sehingga kondisinya semakin parah karena tidak segera mendapatkan pengobatan.

Kota Jogja sejatinya juga bisa ikut untuk menolong ODGJ di wilayahnya.

Yakni dengan melaporkan terlebih dahulu melalui RT, RW kemudian melaporkan ke kelurahan.

“Jika tidak memungkinkan ke puskesmas, maka tim puskesmas akan menyambangi rumah pasien,” kata Arumi.

Sementara itu, Perawat Penyelia Puskesmas Kotagede I Arif Sulistiyanto menyampaikan, sudah memiliki program kesehatan jiwa bagi ODGJ di wilayahnya. 

Yakni melalui Sentuh Kader dan Caregiver Sewaktu (Sekar Sewaktu), Sekolah Sewaktu, dan Kedai Sewaktu.

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan pada program Sekar Sewaktu yakni melakukan pembinaan kader dan keluarga ODGJ.

Selain itu, untuk Sekolah Sewaktu juga dilakukan mini rehabilitas kognitif, afektif dan psikomotor melalui pembinaan klien ODGJ.

“Penderita ODGJ ini sangat membutuhkan perhatian dari lintas sektor dengan berbagai program yang diharapkan dapat membantu mereka dalam mengolah jiwa dan raga agar kesehatan jiwanya terus membaik,” kata Arif. (inu/pra)

 

Editor : Satria Pradika
#Kota Jogja #ODGJ #Jogja