JOGJA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Jogja meminta pemilih pemula mewaspadai potensi pelanggaran dalam tahap pemilihan kepala daerah (pilkada). Tidak terkecuali yang sering muncul menjelang pemungutan suara, yakni politik uang.
Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kota Jogja Siti Nurhayati mengatakan, masyarakat Kota Jogja khususnya pemilih pemula harus melakukan update wawasan tentang tahapan pilkada. Sehingga kemudian nantinya bisa menjadi pemilih yang cerdas dan menolak modus politik uang.
“Daripada menerima politik uang, lebih baik memperhatikan program kerja dan visi misi yang ditawarkan paslon walikota dan wakil walikota ke depan,” ujar Siti dalam keterangannya, Senin (24/6).
Siti melanjutkan, bahwa dalam tahapan pilkada tahun ini pihaknya juga akan mengawal proses pemutakhiran data pemilih. Upayanya dilakukan dengan pengawasan bersama jajaran panwascam dan pengawas kalurahan.
Disamping itu, sambung Siti, Bawaslu Kota Jogja juga meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar memastikan pemilih pemula benar-benar sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). Itu agar pemilih pemula benar-benar bisa menggunakan hak suaranya dalam Pilkada 2024.
Lebih lanjut, dia pun meminta agar dalam tahap pilkada tahun ini para peserta pemilu juga dapat memberikan pendidikan politik kepada pemilih pemula dan pemilih rentan. Sehingga dampaknya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pilkada.
“Sehingga tidak hanya berfokus pada penggunaan hak pilih di TPS, tetapi juga mengawal Pilkada kota Yogyakarta agar berjalan dengan jujur adil dan bermartabat,” terang Siti.
Potensi pemilih pemula di Kota Jogja memang tergolong cukup besar. Dari data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), jumlah Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) di Pilkada 2024 mencapai 12.331 jiwa
Ketua KPU Kota Jogja Noor Harsya Aryo Samudro sebelumnya menyampaikan, ada tantangan bagi petugas pemutakhiran data pemilih (pantarlih). Khususnya dalam upaya pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih pemula untuk Pilkada 2024.
Menurut Harsya, potensi tantangan bagi petugas nantinya berupa penduduk yang sulit ditemui karena kesibukan pribadi. Serta susahnya akses bagi petugas untuk masuk ke rumah penduduk yang berada di perumahan elite.
“Sehingga kemudian sulit untuk di data atau datangi,” terang Harysa. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin