RADAR JOGJA - Dinas Pariwisata DIY, Puro Pakualaman, dan Pelestari Burung Indonesia (PBI) Cabang Bantul menggelar “The National Bird Compettition Piala Paku Alam Seri 10” di Lapangan Pemda Sleman, Jumat (23/6).
"Kompetisi ini bagian dari pengenalan produk penangkaran karena PBI tidak cari burung di hutan," tutur Ketua Umum PBI Pusat Bagyo Rahmadi.
Meski demikian, ia menjelaskan masih ada satu burung dilindungi yang diikutkan dalam kompetisi ini yakni Cucak Ijo. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam melakukan pendaftaran.
"Para penangkar PBI kita amanatkan untuk menangkarkan Cucak Ijo, sudah 15 cabang yang berhasil,” katanya ketika ditemui di lokasi acara.
Nantinya ketika semua cabang telah bisa menangkarkan Cucak Ijo maka PBI akan melakukan permohonan ke Kementerian Lingkungan Hidup agar bisa dikeluarkan dari daftar dilindungi.
“Seperti Murai. Dulu dilindungi, tapi terbukti bisa kami tangkarkan dan berkembang biak lalu dikeluarkan dari daftar,” tambah Bagyo.
Dalam kompetisi ini ada berbagai jenis burung yang ikut serta. Di antaranya, Murai Batu, Cendet, dan Kacer. Mereka bertanding di dua lapangan dengan 27 katagori.
Bagyo turut menjelaskan tiga kriteria yang menjadi indikator penilaian, yakni irama lagu, volume, dan fisik. “Tidak boleh cacat sama sekali, baik kuku, bulu itu harus sempurna,” tegasnya.
Ia menjelaskan ada sedikit perbedaan dalam Piala Pakualaman kali ini dalam hal penjurian. Jika sebelumnya menggunakan sistem tertutup, kini yang digunakan sistem terbuka.
“Juri punya otoritas penuh terhadap penilaian, tapi dilarang komunikasi sesama juri dan koordinator lapangan,” jelasnya.
Dijelaskan, ada sekitar 1.500 peserta yang mengikuti kejuaraan ini. “Mudah-mudahan berlanjut terus dan jadi acara legenda. Ini baru seri ke-10,” harapnya.
Salah seorang peserta Agus mengaku sengaja datang dari Tasikmalaya untuk mengikuti kompetisi ini. Ia membawa burung jenis Anis Merah dan bertanding untuk empat katagori.
“Anis Merah ini agak susah, engga boleh ada banyak gangguan kalau diternak. Beda sama Murai,” katanya. (cr1/laz)
Editor : Satria Pradika