Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rojali Berlama-lama di Kafe tapi Minim Belanja, Sosiolog UIN Sunan Kalijaga Sebut Alasannya karena Ini

Gunawan RaJa • Senin, 24 Juni 2024 | 14:35 WIB

 

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Achmad Zainal Arifin angkat bicara terkait etika nongkrong di warung kopi (warkop) dan kafe.


"Keluhan pengusaha warkop atau kafe mengenai banyaknya konsumen membeli satu gelas kopi dan nongkrong hingga berjam-jam, rasanya kok kurang pas ya," katanya Minggu (24/6).


S2 CRCS --UGM dan Sosiologi Universitas of Northern Iowa-- itu menyebut, fungsi warkop dan kafe memang identik dengan tempat nongkrong.

Bahkan kebanyakan warkop dan kafe di awal promosi mengenalkan sejumlah fasilitas yang memberikan jaminan kepada konsumen rasa nyaman dan betah nongkrong. "Seperti layanan wifi yang antilemot, tempat duduk didesain nyaman, lokasi strategis, dan yang lain," ujarnya.


Jika kemudian ada banyak pengunjung warkop atau cafe yang memang betah berjam-jam nongkrong, bukankah itu sudah sesuai dan memang diharapkan sejak awal mempromosikan usaha.


"Persoalan kemudian hanya satu atau dua item saja yang terjual kepada konsumen, padahal mereka nongkrongnya berjam-jam. Hemat saya, seharusnya justeru menjadi bahan evaluasi terkait variasi menu atau harganya," ucapnya.


Mungkin perlu survei terkait dari golongan ekonomi seperti apa mayoritas pengguna warkop atau kafe, kemudian menyesuaikan variasi menu dan harga. "Itu saya kira pilihan relatif aman untuk tetap menjaga jumlah konsumen," terangnya.


Atau kalau merasa tidak khawatir dengan berkurangnya konsumen, mungkin bisa saja dengan menempuh beragam cara lain yang mengorbankan kenyaman konsumen agar tidak betah nongkrong berlama-lama.


"Misalnya dengan mematikan wifi secara berkala atau mendesain tempat duduk dan ruangan agar konsumen tidak begitu nyaman untuk ngobrol," bebernya.


Termasuk mengurangi privasi mereka untuk bisa membentuk kelompok-kelompok kecil, dan sebagainya. Akan tetapi tentu hal semacam ini jelas akan berisiko kehilangan konsumen.


"Bahkan mungkin bisa mem-branding ulang warkop atau kafenya untuk pangsa pasar tertentu yang memang lebih eksklusif," bebernya.


Sehingga meskipun pengunjung warkop atau kafe tidak begitu banyak, akan tetapi bisa tertolong dari sisi margin keuntungan item-item yang dijual. Tentu pilihan-pilihan itu memang perlu pertimbangan matang. Tidak bisa dengan gegabah atau begitu saja diambil tanpa perencanaan dan perhitungan yang baik.


"Intinya, menurut saya, warkop atau kafe yang memang sudah identik dengan aktivitas nongkrong,  ya sudah seharusnya merasa bangga jika banyak konsumen yang rela meluangkan waktunya berlama-lama di sana," terangnya.


Tinggal bagaimana pihak warkop dan kafe menunjukkan kreativitas dan mendesain kegiatan-kegiatan lain yang bisa mendatangkan keuntungan. (gun/laz)

Editor : Satria Pradika
#sosiolog #universitas islam negeri #Yogyakarta #warung kopi #fasilitas pelayanan #warkop #Kafe #UIN