RADAR JOGJA - Pernyataan salah seorang pemilik kafe di Jogja mengenai rombongan jarang beli (rojali) yang dinilai meresahkan, rupanya menuai polemik di kalangan mahasiswa. Bisa dikatakan mahasiswa menjadi salah satu market penjualan dari produk-produk kuliner kafe di DIY.
Apalagi bagi mahasiswa yang hendak mengerjakan tugas kuliah atau skripsi, tentu memilih tempat kafe yang ramah dompet dan jadwal tutup yang lebih larut.
Salah seorang mahasiswa di salah satu kampus di Bantul, Farhan mengaku, ia bisa dikatakan menjadi langganan kafe atau warkop, baik untuk mengerjakan tugas akhir atau sekadar nongkrong bersama teman-teman. "Kalau ke kafe yah pasti harus ada duit. Kalau tidak ada, ya gak usah pergi," ujarnya kepada Radar Jogja, Minggu (23/6).
Baginya, kafe merupakan tempat untuk mencari hiburan di sela-sela istrahat mengerjakan tugas kuliahnya. Wifi kencang menjadi alasan utama memilih untuk menghabiskan waktu di cafe. "Kalau lagi capek kerjakan tugas, ya tinggal ngegame, internetnya kencang. Setelah itu baru kerjakan lagi," ucapnya.
Sekali berkunjung ke kafe, kata Farhan, uang yang dikeluarkan tidak pernah lebih dari Rp 50 ribu. Sesekali juga dirinya membayarkan temannya ketika mengajak nongkrong. "Kalau sendiri paling Rp 20 ribu. Itu sudah makan dan minum," tuturnya.
Di tanya mengenai fenomena rojali, Farhan mengaku tidak pernah menemui rombongan yang seperti itu. Mengenai jarang beli juga tidak pernah dilakukan olehnya. Untuk itu, dia merasa mempunyai hak untuk nongkrong lebih lama.
"Di kafe biasa saya pergi, tidak ada aturan mengenai batasan waktu duduk, asal pesan (beli makanan atau minuman) di kafe itu," ucapnya.
Begitu pula dengan cafe-cafe di Jogja yang telah dia kunjungi.
Menurutnya, tidak ada aturan secara lisan maupun tertulis mengenai batas waktu untuk stay di kafe tersebut. "Kecuali kafenya sudah mau tutup, saya dan teman-teman pasti pulang," ucapnya. (ndi/laz)
Editor : Satria Pradika