Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengusaha Coffe Shop di Jogja Keluhkan Keberadaan "Rojali", Terapkan Sindiran hingga Ada Menu Bayar Seikhlasnya

Agung Dwi Prakoso • Senin, 24 Juni 2024 | 12:50 WIB

 

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Baru-baru ini viral seorang pengusaha coffe shop yang mengeluhkan tidak sedikit konsumen yang datang, mayoritas mahasiswa, tidak memesan menu yang dijual di coffe shop atau kafenya.

 

Bahkan mereka berkelompok dan menggelar rapat. Mirisnya, waktunya berlama-lama hingga menghabiskan space tempat duduk dan fasilitas lain. Bagaimana sebenarnya "etika" nongki di kafe yang sama-sama menguntungkan? Apa kata mahasiswa, juga sosiolog terhadap fenomena ini.


Jogjakarta merupakan daerah dengan jumlah coffe shop lebih dari 9.000 pengusaha kopi (data Kadin DIY tahun 2023). Namun, dari sekian banyak pengusaha coffe shop ini, masih ditemukan beberapa coffe shop seolah-olah "dijajah" oleh rombongan pelanggan yang mayoritas kumpulan mahasiswa.

Salah seorang pengusaha coffe shop di Jogjakarta, Agus Arya mengatakan, fenomena ini telah terjadi sejak lama, di mana banyak pelanggan yang hanya menumpang duduk. Ia menilai fenomena ini menjadi keresahan dan berdampak untuk pemasukan usahanya.
"Itu cukup merugikan kami, karena di bidang kuliner itu menyangkut supplier bahan dan sebagainya juga ikut kena dampak," ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (23/6).


Menurutnya, fenomena itu menjadi keresahan banyak pengusaha coffe shop di Kota Jogja. Menanggapi hal itu, banyak pengusaha coffe shop yang mulai 'menyentil' atau mengode pelanggan yang seperti itu dengan beberapa cara. "Kadang saya panggil koordinatornya, saya kasih penjelasan untuk order agar setidaknya tercover biaya operasional kita," tuturnya.


Selain menyentil secara lisan, pihaknya juga memberikan peringatan dalam bentuk tulisan. Tulisan dibuat semacam peraturan resmi dan ada juga yang bentuk sindiran-sindiran poster yang terkesan kocak.
"Bilangnya ngopi ternyata ngobrol doang, Kasihan kopi selalu dikambinghitamkan. Nah kata-kata semacam itu untuk menyindir mereka," jelasnya seraya tersenyum.

Ia menilai dengan menggunakan sentilan semacam itu, dirasakan sedikit perubahan dari pelangganya. Ia juga akan menerapkan menu khusus bagi para kaum 'Rojali' alias rombongan jarang beli yaitu menu kopi bayar seikhlasnya. "Harapanya untuk membiasakan pelanggan agar tetap mau order di tempat kami dengan bebas tanpa batasan nominal," ujarnya.


Menurutnya, pesanan dari pelanggan adalah bentuk saling menghargai dari pelanggan atas tempat yang ia pakai. Padahal dirinya tidak mewajibkan pelanggan untuk membeli menu khusus yang relatif mahal. "Ini bukan tamu adalah raja, tapi tamu adalah penjajah. Raketang order es teh atau air mineral, wong ya sudah pakai tempat," kelakarnya.


Menurutnya, rombongan itu juga menganggu pelanggan lain karena keterbatasan tempat, penggunaan colokan dan jaringan wifi. Mereka juga banyak meninggalkan sampah dan mencoret meja, bahkan tergolong merusak. "Yang paling parah, mereka malah membawa sampah dari luar dan ditinggal di meja atau kursi bekas mereka," ungkapnya. (oso/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Kadin DIY #Pengusaha Coffe Shop #rojali #rapat akbar #coffe shop