JOGJA - Yogyakarta merupakan daerah dengan jumlah coffee shop yang mencapai lebih dari 9.000 pengusaha kopi (data dari Kadin DIY tahun 2023).
Namun, dari sekian banyak pengusaha Coffee Shop di Yogyakarta, masih ditemukan beberapa Coffee Shop seolah-olah 'dijajah' oleh rombongan pelanggan yang mayoritas kumpulan mahasiswa.
Mereka berkelompok dan mengadakan rapat namun tidak memesan menu yang dijual di Coffe Shop tersebut.
Ada yang menyebut mereka ini kelompok Rojali, alias Rombongan Jarang Beli.
Mirisnya, mereka juga berlama-lama hingga menghabiskan space tempat duduk dan fasilitas lain.
Salah seorang pengusaha Coffee Shop di Yogyakarta, Agus Arya mengatakan fenomena tersebut telah terjadi sejak lama.
Dimana banyak pelanggan yang hanya menumpang duduk di Coffee Shopnya.
Ia menilai fenomena tersebut menjadi keresahan dan berdampak untuk pemasukan usahanya.
"Itu cukup merugikan kami, karena di bidang kuliner itu menyangkut supplier bahan dan sebagainya juga ikut kena dampak," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (23/6/2024).
Menurutnya, fenomena itu menjadi keresahan banyak pengusaha coffee shop di Kota Jogja.
Menanggapi hal tersebut, banyak pengusaha coffee shop yang mulai 'menyentil' atau mengode pelanggan yang seperti itu dengan beberapa cara.
Baca Juga: John McGinn Percaya Diri Skotlandia Mampu Capai Babak 16 Besar Euro 2024 Untuk Pertama Kalinya
"Kadang saya panggil koordinatornya saya kasih penjelasan untuk order agar setidaknya tercover biaya operasional kami," tuturnya.
Selain 'menyentil' secara lisan, pihaknya juga memberikan peringatan dalam bentuk tulisan.
Tulisan dibuat semacam peraturan resmi dan ada juga yang bentuk sindiran-sindiran poster yang terkesan kocak.
"Bilangnya Ngopi Ternyata Ngobrol Doang, Kasihan Kopi Selalu Di Kambing Hitamkan, nah kata-kata semacam itu untuk menyindir mereka," jelasnya.
Ia menilai dengan menggunakan sentilan semacam itu, dirasakan sedikit perubahan dari pelanggannya.
Dirinya juga akan menerapkan menu khusus bagi para kaum 'Rojali' Rombongan Jarang Beli (istilahnya) yaitu menu kopi bayar seikhlasnya.
"Harapanya untuk membiasakan pelanggan agar tetap mau order di tempat kami dengan bebas tanpa batasan nominal," ujarnya.
Menurutnya, pesanan dari pelanggan adalah bentuk saling menghargai dari pelanggan atas tempat yang ia pakai.
Padahal dirinya tidak mewajibkan pelanggan untuk membeli menu khusus yang relatif mahal.
"Ini bukan tamu adalah raja, tapi tamu adalah penjajah," kelakarnya.
"Raketang order es teh atau air mineral, wong ya sudah pakai tempat," tandasnya.
Menurutnya, rombongan tersebut juga menganggu pelanggan lain karena keterbatasan tempat, penggunaan colokan dan jaringan wifi.
Menurutnya, mereka juga banyak meninggalkan sampah dan mencoret meja bahkan tergolong merusak.
"Yang paling parah mereka malah membawa sampah dari luar dan ditinggal di meja atau kursi bekas mereka," ujarnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin