JOGJA - Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Yogo Prasetyo Pri Hutomo menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor pariwisata.
Hal itu dapat dilihat dari masih minimnya kampung wisata dengan predikat mandiri di Kota Jogja.
Politisi Partai Golkar itu mengatakan, masyarakat Kota Jogja sebenarnya memiliki banyak kreativitas yang berpotensi menjadi daya tarik wisata.
Dimana bentuknya berupa kegiatan-kegiatan budaya yang kerap dilakukan oleh masyarakat di wilayahnya sendiri.
Namun menurut Yogo, pemerintah sampai saat ini masih belum peka untuk merespons potensi-potensi tersebut.
Salah satu contohnya, yakni di Kampung Sutodirjan, Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen.
Yogo menerangkan, bahwa di kampung itu dulunya pernah menyabet beberapa penghargaan tingkat nasional.
Yakni juara dua kampung piala dunia dan peringkat sepuluh gapura terbaik nasional.
Masyarakat pun diketahui juga menggunakan dana swadaya untuk memperindah kampungnya.
“Mereka kalau ingin tampil lagi terkendala biaya pembuatan, mereka juga pernah minta support dari pemerintah atau dinas ternyata kurang responsnya."
"Padahal itu banyak mengundang wisatawan,” ujar Yogo kepada Radar Jogja, Minggu (23/6/2024).
Dia menilai, potensi-potensi seperti itu sebenarnya juga ada di kampung-kampung lain di Kota Jogja.
Contohnya berupa kegiatan fotografi dengan menggunakan baju-baju adat dengan latar belakang kehidupan kampung.
Lalu, juga ada kampung yang memiliki komunitas seni seperti barongsai atau jathilan.
Yogo menyebut, potensi-potensi tersebut sebenarnya dapat dimaksimalkan untuk mengundang wisatawan.
Namun memang terkadang banyak kendala yang dihadapi oleh para pelaku seni, seperti belum memiliki legalitas dan sebagainya.
“Semoga pemerintah paham untuk hadir dan peka terhadap kreativitas masyarakat yang menjadi daya tarik wisatawan, serta dapat membantu legalitas yang harus ditempuh agar bisa menjadi kampung mandiri,” kata Yogo.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Jogja Husni Eko Prabowo menyampaikan, ada empat klasifikasi kampung wisata.
Yakni kampung wisata mandiri, maju, berkembang, dan rintisan.
Adapun di Kota Jogja baru Kalurahan Rejowinangun di Kemantren Kotagede yang sudah memiliki klasifikasi mandiri.
Kemudian untuk yang memiliki predikat maju ada tiga kampung wisata, yaitu Warungboto, Cokrodiningratan, dan Prenggan.
Lalu untuk yang masuk predikat berkembang, disebutnya, sudah ada delapan kampung wisata.
Sementara untuk sisanya atau sebanyak 13 kampung wisata masuk kategori rintisan.
Menurut Husni, kegiatan sertifikasi kampung wisata di Kota Jogja dilakukan dalam periode tiga tahun sekali.
Dalam penilaian atau survey kampung wisata tersebut pihaknya juga melibatkan tim ahli.
“Kalau layak baru nantinya diakui dan diikutkan dalam kegiatan kampung wisata,” terangnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin