RADAR JOGJA - Anggota MPR RI GKR Hemas mewanti-wanti pemerintah untuk lebih fokus dalam mengurus negara. Di antaranya terkait program tabungan perumahan rakyat (Tapera). Supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Tapera adalah contoh kesejahteraan masyarakat justru dijadikan alat politik," tegasnya dalam kegiatan Sosialisasi 4 pilar di Gedung Pertemuan Kalurahan Bimomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman Rabu (19/6).
Hemas menyebut , tapera jelas memberatkan masyarakat. Karena kebutuhan akan rumah tidak seperti kebutuhan kesehatan yang bisa menyebabkan BPJS atau Kartu Indonesia Sehat bisa berjalan baik.
"Tapera lebih mirip ASABRI yang kasus korupsinya merugikan negara hingga Rp 22,78 triliun," lanjutnya.
Dihadiri lebih dari 200 orang, Hemas yang menggunakan baju warna ungu menegaskan kembali, Pemilu Presiden dan Legislatif sudah selesai, jadi tidak perlu ada lagi perpecahan di masyarakat.
"Adapun Pilbup dan Pilwalkot 27 November nanti, tidak boleh membawa perpecahan yang baru, karena Jogja adalah satu di bawah Sultan Hamengkubuwono 10," pesannya.
Baca Juga: Libur Idul Adha, Kunjungan Wisata Lava Tour Menurun, Segini Jumlah Wisata yang Datang
DPR dan pemerintah, kata dia, jangan lagi membuat undang-undang karena sudah mulai memasuki masa demisioner. Lebih baik fokus pada kesejahteraan masyarakat. KPK dan Kejaksaan harus bekerja lebih keras untuk segera menyelesaikan utang-utang kasus yang belum selesai.
Pemerintah juga lebih baik memperhatikan masalah judi online yang sangat meresahkan masyarakat. Ini membuat orang menjadi miskin dan gelisah. Bahkan sampai ada kasus, polisi yang dibakar istrinya sendiri, yang juga polisi.
"Sesuai sila ke 5 Pancasila, kesejahteraan dan ketentraman sosial adalah bagian dari tugas pemerintah," ungkapnya.
Hemas juga mengingatkan agar tetap hati-hati dalam memaknai pesan dari media sosial. Banyak sekali orang berkomentar secara ngawur, dan terkadang justru merugikan pihak lain.
Perlu ketelitian dalam melihat dan mengomentari postingan di media sosial, apakah itu tiktok, instagram, facebook, twitter X, thread, atau status WhatsApp.
Menurut dia, Jogja sudah sangat sulit mengatasi urusan sampah, jangan diperparah dengan komentar yang tidak perlu. "Lebih baik melihat kembali secara teliti bagaimana Gunungkidul akan mengembangkan perekonomian dan pariwisatanya setelah Raffi Ahmad menarik diri," pesannya .
Editor : Heru Pratomo