RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat temuan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup tinggi. Bahkan terjadi peningkatan cukup signifikan selama tiga bulan terakhir karena kendornya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga Kamis (13/6) jumlah kasus DBD mencapai 149 kasus. Dari data yang dimiliki instansi tersebut, temuan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu juga merata pada seluruh kalurahan.
Dari hasil catatannya ada temuan kasus DBD cukup siginifikan selama tiga bulan terakhir atau pada periode Maret hingga Mei. Pasalnya, pada Januari hanya hanya ditemukan sebanyak 12 kasus, kemudian di Februari sebanyak 27 kasus. Memasuki Maret, temuan kasus DBD naik karena ditemukan 34 kasus. Lalu di April jumlah makin meninggi karena ada 42 kasus. Kemudian di Mei ada 32 kasus. Sementara hingga pertengahan Juni ini baru ditemukan sebanyak 2 kasus.
Disinggung terkait dengan penyebab meningkatnya kasus DBD selama kurun bulan Maret hingga Mei. Menurut Endang, ada kemungkinan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengoptimalkan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN.“Sangat mungkin PSN-nya pas kurang aktif,” ujar Endang saat dikonfirmasi Kamis (13/6).
Endang melanjutkan, sampai saat ini memang belum ada catatan kasus meninggal dunia akibat penyakit DBD. Kendati demikian, menurutnya masyarakat tetap perlu melakukan PSN di lingkungannya masing-masing.
PSN dapat dilakukan dengan cara 3M Plus. Yakni menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi, serta mengubur barang-barang bekas. Sementara untuk plus-nya bisa dilakukan dengan penggunaan obat nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik di bak mandi, hingga menggunakan kelambu saat tidur.“Dengan upaya 3M Plus, harapannya kasus DBD dapat ditekan,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie menyampaikan, kasus DBD tahun 2024 hingga periode awal Mei memang lebih tinggi dibanding periode tahun lalu. Salah satu penyebabnya karena faktor fenomena El Nino.Fenomena tersebut berdampak pada kekeringan atau kemarau panjang. Lalu juga peralihan ke cuaca dengan curah hujan cukup besar dengan waktu yang cukup panjang pula.
Sekarang berbalik musim panasnya di atas rata-rata sehingga tempat-tempat yang menjadi perindukan telur-telurnya itu semakin banyak. “Dengan perubahan cuaca seperti ini membuat kita sendiri harus lebih aware,” kata Pembajun. (inu/din)