JOGJA - Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jogja meminta agar masyarakat tidak menambah produksi sampah saat Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriah.
Terlebih di tengah situasi darurat sampah yang kini dihadapi.
Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Kota Jogja Saeful Anwar mengatakan, pihaknya sudah meminta agar panitia hari besar Islam di Kota Jogja tidak menambah produksi sampah.
Khususnya, dalam pelaksanaan salat Ied dan penyembelihan hewan kurban.
Menurut dia, upaya meminimalisai produksi sampah saat hari Raya Idul Adha dapat dilakukan masyarakat dengan tidak menggunakan barang sekali pakai.
Contohnya seperti tidak menggunakan koran bekas sebagai alas salat, sebab biasanya ditinggalkan begitu saja oleh para jamaah selesai beribadah.
Jika melihat kondisi di Kota Jogja, potensi produksi sampah saat pelaksanaan salat Idul Adha memang cukup tinggi.
Terlebih jika melihat jumlah titik lokasi pelaksanaan salat Idul Adha yang jumlahnya sudah mencapai 195 titik hingga Kamis (13/5).
Dari ratusan titik itu jumlah jamaah pun bisa mencapai ribuan orang.
Oleh karena itu, Kemenag Kota Jogja pun berharap agar masyarakat bisa menyikapi Hari Raya Idul Adha tahun ini dengan bijak terhadap sampah.
Sehingga produksi sampah pun tidak membeludak.
“Kami imbau untuk membawa alas salat dari tikar dan sajadah. Bukan koran bekas,” ujar Saeful saat dikonfirmasi, Kamis (13/6/2024).
Saeful melanjutkan, selain meminimalisasi produksi sampah saat pelaksanaan salat, pihaknya juga mengimbau agar panitia kurban di Kota Jogja tidak menggunakan plastik sebagai kemasan daging.
Alternatifnya, bisa menggunakan wadah berbahan organik seperti besek (wadah dari anyaman bambu).
Saeful menilai, dalam menjalani hari raya Idul Adha tahun ini masyarakat memang harus seminimal mungkin memproduksi sampah non organik.
Supaya tidak memperparah situasi darurat sampah di Kota Jogja.
“Sehingga kami minta agar panitia dapat mengelola sampah non organik seminimal mungkin,” katanya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sukidi juga meminta masyarakat tidak membuang sampah jeroan hewan kurban ke sungai.
Sebab, budaya membuang limbah jeroan ke sungai akan mencemari aliran air sungai.
Di samping itu, dia juga tidak menganjurkan masyarakat untuk menggunakan plastik sebagai kemasan daging kurban.
Selain dapat menambah produksi sampah, penggunaan plastik untuk menyimpan daging kurban menurutnya juga berbahaya untuk kesehatan.
“Kami anjurkan tidak menggunakan plastik untuk menyimpan daging di dalam kulkas. Tapi kalau sekadar untuk membawa lalu segera dimasak tidak apa-apa,” ucap Sukidi. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin