Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ancam Keberlangsungan Hidup, Aktivis Pecinta Hewan Gelar Aksi Soroti Alih Fungsi Lahan di Gunungkidul, Begini Tuntutannya..

Iwan Nurwanto • Rabu, 5 Juni 2024 | 23:33 WIB
Aktivis melakukan aksi di depan Kantor Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Rabu (5/6/2024).   (Guntur Aga/Radar Jogja)
Aktivis melakukan aksi di depan Kantor Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Rabu (5/6/2024). (Guntur Aga/Radar Jogja)

JOGJA - Animal Friend Jogja (AFJ) dan Koalisi Primate Fight Back Jogja menggelar aksi pada Rabu (5/6) untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tema yang diangkat berupa adanya alih fungsi lahan di kabupaten Gunungkidul yang mengancam keberlangsungan hidup hewan di wilayah tersebut.

Koordinator Aksi Angelina Pane mengatakan, alih fungsi lahan merupakan isu krusial yang terjadi di Indonesia dan dunia. Termasuk di Gunungkidul yang kini melakukan alih fungsi lahan seluas 10.000 ribu hektar dengan tujuan untuk pariwisata dan pertanian.

Menurut dia, kondisi tersebut sangat mengancam kehadiran hutan yang menjadi tempat hidup bagi satwa endemik di wilayah tersebut. Dia pun menilai, membabat habis hutan dan menjadikannya sebagai bangunan pariwisata akan sangat bertolak belakang dengan upaya melindungi dan mengelola lingkungan hidup yang lestari.

“Sekarang, ramai-ramai orang menuding monyet, landak, dan satwa liar lainnya sebagai hama padahal mereka korban karena kehilangan habitat mereka,” ujar Angelina dalam keterangannya, Rabu (5/6)

Sementara itu, Koordinator Aksi Peduli Monyet (AIPOM) Antono Suyudi menyebut, karst di kabupaten Gunungkidul merupakan sumber air bagi apapun yang hidup di sana termasuk monyet ekor panjang. Jika karst dibabat habis maka nantinya tidak ada air yang tersisa bagi hewan yang tinggal disana.

Dia pun menyoroti tentang adanya polemik antara masyarakat dengan monyet ekor panjang yang hidup di wilayah itu. Sebab monyet dituding sebagai hama. Padahal turunnya monyet ke lahan pertanian masyarakat terjadi karena semakin sempitnya ruang hidup bagi primata tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar ada pengawasan ketat terhadap alih fungsi lahan di Gunungkidul. Lalu juga diharapkan pemerintah juga dapat melindungi habitat monyet ekor panjang yang masih tersisa. Termasuk membuat model pariwisata ramah lingkungan berbasis komunitas lokal.

Baca Juga: PSSI Tentukan Venue Laga Final Liga 3 Nasional Adhyaksa Farmel FC vs Persibo Bojonegoro, Dimana?

“Kami juga ingin habitat-habitat alami monyet ditanami dengan sumber pakan alami dan pohon penyimpan air sebagai bagian dari inisiatif ketahanan iklim di Gunungkidul,” tandas Antono. (inu)

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Perlindungan Hewan #lingkungan hidup