Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dipicu Turunnya Harga Beras, DIY Alami Deflasi Kedua pada 2024

Gregorius Bramantyo • Selasa, 4 Juni 2024 | 23:58 WIB
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati.

JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,08 persen pada Mei 2024.

Turunnya harga beras di DIY menjadi salah satu penyebab terjadinya deflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm) per Mei 2024.

Deflasi yang terjadi pada Mei ini menjadi deflasi kedua selama 2024 ini. Sebelumnya deflasi pernah terjadi pada Januari 2024 yaitu 0,02 persen.

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, penurunan harga beras di DIY disebabkan adanya panen raya di Kabupaten Gunungkidul serta kabupaten lain pada Mei 2024.

Hal itu mengakibatkan harga beras turun sehingga terjadi deflasi. Harga beras sendiri memberikan andil deflasi sebesar 0,15 persen.

Deflasi yang terjadi pada Mei 2024 ini, kata Herum, mendukung kestabilan kondisi ekonomi DIY. Setelah terjadi inflasi pada April 2024 bertepatan dengan libur hari raya Idul Fitri.

Meski beberapa bulan ke depan diprediksi akan terjadi kekeringan, Herum optimistis laju inflasi akan tetap terkendali.

“Sehingga ekonomi tetap bertumbuh, daya beli tidak turun, akhirnya kesejahteraan petani dan kondisi ekonomi masyarakat tetap meningkat,” ujarnya, Selasa (4/6/2024).

Ia menjelaskan, dampak deflasi yang paling bisa dirasakan masyarakat adalah harga-harga yang akan cenderung turun.

Sementara harga beras yang turun menjadi keuntungan bagi yang tidak memiliki sawah. Namun bagi yang memiliki sawah, hal itu akan berdampak kepada nilai tukar petani.

Menurutnya, petani di DIY tidak hanya menanam gabah saja, tetapi juga komoditas lain. Seperti minyak kelapa dan komoditas lain yang harganya cenderung naik.

"Peternakan juga baik, jadi menurut saya ini bagus dan seimbang," lanjutnya.

Herum belum bisa memastikan apakah beberapa bulan ke depan DIY akan mengalami deflasi kembali atau justru terjadi inflasi.

Mengingat provinsi ini adalah daerah wisata dan pendidikan. Sedangkan panen juga masih akan terjadi pada Juni.

"Inflasi harus tapi terkendali supaya ekonomi tetap berjalan. Di sisi lain, daya beli masyarakat tetap terjaga," katanya.

Ia menyampaikan, perkembangan perekonomian ini juga sangat dipengaruhi oleh perubahan musim. Selain itu, kondisi panen, event hari raya, dan musim liburan juga berpengaruh.

Hal ini menjadi pekerjaan bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY untuk memastikan inflasi di DIY terkendali.

Harum menilai, TPID bertugas untuk mengendalikan inflasi, bukan peniadaan inflasi. Menurutnya inflasi harus tapi terkendali supaya ekonomi tetap berjalan.

“Di sisi lain, daya beli masyarakat tetap terjaga. Asumsi ideal yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu 2,5 plus minus 1,” ujarnya. (tyo)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#2024 #daya beli #Dipicu #BPS DIY #Wisata #turun #Pendidikan #asumsi #nilai tukar #inflasi #DIY #TPID DIY #Kedua #Petani #harga beras #deflasi #Ekonomi #komoditas