RADAR JOGJA - Sandang, pangan, dan papan merupakan kebutuhan primer yang menunjang kehidupan manusia. Sektor sandang dan pangan telah banyak tercukupi, namun di sektor papan, seakan menjadi barang yang sulit terpenuhi. Seringkali alasan tak mendapatkan papan diakibatkan tingginya harga properti, yang tak diimbangi dengan pendapatan.
"Sebenarnya ini masalah klasik, karena sejak dulu fenomenanya sama," ucap Manager Project Makmur Timbul Santosa Eko Purnomo, Jumat (31/5).
Eko selaku pihak pengembang menjelaskan, fenomena ini tak hanya terjadi di kalangan Gen-Z. Bahkan di kalangan Generasi X-Y sempat terjadi kesulitan mencari hunian. Hal ini dikarenakan investasi tanah untuk hunian cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya hingga harga properti berangsur naik.
Walaupun mengalami kenaikan harga, geliat properti DIY seakan tak padam. Eko menjelaskan, 40 persen konsumen perumahannya merupakan generasi Z. Di mana kelompok ini merupakan konsumen terbanyak rumah subsidi. Tentunya rumah subsidi itu melalui sistem pembayaran KPR yang dinilai lebih ideal dan terjangkau anak muda.
Kebanyakan konsumennya memang mengincar perumahan subsidi. Selain itu, generasi Z cenderung memilih hunian yang strategis, simpel, mudah perawatannya, serta memiliki akses pendukung. Kriteria rumah ini ada karena untuk menunjang generasi Z dalam beraktivitas sehari-hari. "Kebanyakan konsumen kami, pasangan yang baru menikah atau yang baru diterima PNS," ucap Eko.
Ia menjelaskan, generasi Z terkadang kebingungan dalam menentukan skema mendapatkan rumah idaman. Generasi Z terkadang kesulitan memilih menabung dahulu atau menggunakan KPR untuk mendapatkan rumah.
Menurutnya, hal itu sangat wajar terutama bagi seseorang yang belum pernah membeli rumah. Ia menjelaskan, sebaiknya generasi Z menyesuaikan kondisinya dalam mendapatkan rumah. Apabila generasi Z tak memiliki tempat tinggal atau masih mengontrak sebaiknya menggunakan mekanisme KPR agar segera mendapatkan rumah. Hal ini dikarenakan beban untuk biaya kontrak rumah terkadang hampir sama dengan cicilan KPR.
Sedangkan bagi generasi Z yang masih tinggal di rumah orang tua ataupun sudah memiliki tempat tinggal, sebaiknya menabung untuk mendapatkan rumah yang sesuai dengan keinginannya. Apabila memungkinkan, Gen-Z dapat memilih hunian yang memiliki investasi tinggi.
"Secara keseluruhan perkembangan properti khususnya hunian progressnya cukup bagus, walaupun tak berkembang pesat," ucap Eko.
Perkembangan hunian yang tak terlalu pesat ini diakibatkan pola kebutuhan konsumen yang cenderung masih biasa saja. Selain itu, beberapa kabupaten/kota seperti, Sleman, Bantul, dan Jogja mengalami kemandegan dalam pengembangan hunian, akibat terbatasnya lahan. Padahal di tiga kabupaten itu minat akan hunian cukup tinggi.
Sedangkan di daerah seperti Kulon Progo (KP) dan Gunungkidul perkembangan tak terlalu pesat. Hal ini dikarenakan minimnya peminat, walaupun harga tanah cenderung lebih murah dibanding daerah perkotaan.
Eko menjelaskan, terdapat tiga segmen hunian yang berada di DIY. Pertama, segmen subsidi dengan rata-rata hunian tipe 30/60 dibanderol Rp 166 juta. Segmen ini termasuk yang seringkali diburu masyarakat, karena memanfaatkan program KPR.
Kedua, segmen komersil menengah di mana segmen ini banyak variasi tipe rumah 36-50, dengan luas lahan 90-100 m2. Segmen ini biasanya dihargai di atas Rp 200 juta-Rp 800 juta. Ketiga, segmen komersil premium merupakan kasta tertinggi hunian di mana variasi tipe dan lahan banyak pilihan bagi masyarakat. "Perkembanagn cukup bagus, persaingan ketat di Sleman dan Kota, namun di Kulon Progo tidak terlalu," ucap Eko.
Eko menjelaskan, persaingan antarpengembang di daerah Sleman dan Kota Jogja cenderung ketat. Hal ini dikarenakan banyaknya hunian yang menjamur. Rata-rata hunian di daerah Sleman dan Kota adalah hunian segmen komersial menengah. Hal ini dikarenakan, permintaan pasar untuk hunian komersial menengah lebih banyak. Sedangkan hunian subsidi tidak memungkinkan dibangun, karena mahalnya tanah.
Sementara di daerah seperti Kulon Progo, persaingan pengembang tak terlalu ketat. Fenomena ini terjadi karena banyak pengembang kesulitan dalam mencari market. Banyak masyarakat yang berminat mencari hunian subsidi. Namun karena adanya kenaikan harga tanah yang pesat membuat pengembang tak bisa merugi menjual hunian dengan harga subsidi.
Kendati Kulon Progo memiliki unit selling point bagi hunian yang strategis, pengembang justru menghindari wilayah Kulon Progo. Hal ini dikarenakan, tingginya harga tanah sedangkan minat masyarakat tak sesuai dengan market yang seharusnya. (gas/laz)