Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPBD Sleman Cabut Status Siaga Bencana Hidrometeorologi, Kini Berganti Siaga Kekeringan

Iwan Nurwanto • Jumat, 31 Mei 2024 | 18:46 WIB
Bencana pohon tumbang dan tiang listrik roboh terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Purworejo akibat hujan deras disertai angin.
Bencana pohon tumbang dan tiang listrik roboh terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Purworejo akibat hujan deras disertai angin.

SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dipastikan tidak memperpanjang status bencana hidrometeorologi. Instansi tersebut kini lebih menekankan terhadap kesiapsiagaan bencana kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, status siaga darurat bencana hidrometeorologi berakhir pada Jumat (31/5). Dia pun memastikan, pihaknya juga tidak akan memperpanjang status bencana hidrometeorologi.

Bambang menerangkan, kalau status siaga bencana kekeringan di kabupaten Sleman rencananya akan berlangsung mulai tanggal 1 Juni 2024 hingga 31 Agustus 2024 mendatang. Periode tersebut pun bisa diperpanjang tergantung situasi

“Untuk saat ini (penetapan status siaga darurat kekeringan) sedang on proses,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, (31/5).

Bambang menyatakan, untuk menghadapi bencana kekeringan ini pihaknya sudah menyiagakan tiga truk tangki. Rinciannya satu tangki milik BPBD Sleman, kemudian diperbantukan satu tangki milik PMI Sleman, dan satu tangki dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW).

Sementara untuk anggaran, BPBD Sleman mengalokasikan sebesar Rp. 14 juta dari anggaran reguler. Jumlah itu nantinya dapat digunakan untuk  35 kali droping dengan anggaran satu kali dropping sebesar Rp. 400 ribu.

Bambang menyebut, hampir seluruh kapanewon di kabupaten Sleman rawan mengalami kekeringan. Sebab di tahun 2023 lalu, hanya kapanewon Prambanan, Ngemplak, dan Berbah yang tidak mengajukan droping air bersih.

“Melihat pengalaman tahun lalu hanya tiga yang tidak mengajukan droping,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkap, wilayah DIY sudah memasuki musim kemarau pada bulan Mei. Namun, ada wilayah yang mulai mengalami penurunan curah hujan pada awal serta akhir bulan.

Sementara untuk puncak musim kemarau sendiri, kemungkinan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Selama periode tersebut juga diprediksi dapat terjadi suhu udara cukup tinggi kisaran maksimal 35 sampai 36 derajat celcius.

“Kami menghimbau supaya pemerintah dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap berbagai kemungkinan. Terlebih pada dampak puncak musim kemarau seperti bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih,” pesannya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#bencana hidrometeorologi #BPBD Sleman #bencana kekeringan