JOGJA - Pemerintah Kota Jogja menggelar pelatihan penyembelihan hewan kurban bagi 100 orang perwakilan takmir masjid dan musala.
Kegiatan ini diselenggaran di Masjid Pangeran Diponegoro Balai Kota Jogja, Selasa (28/5/2024).
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Hibnu Basuki menjelaskan kegiatan ini sesuai dengan perencanaan anggaran pemerintah kota.
“Pemerintah kota hadir untuk memberi edukasi agar masyarakat tahu persis kurban yang sesuai syariat,” ujarnya.
Hibnu menjelaskan ke depan pemerintah akan terus mengevaluasi kegiatan agar bisa mewadahi masyarakat secara lebih luas.
“Peserta jangan puas sampai sini, pelatihan tidak hanya ini saja. Tapi semoga dengan narasumber yang kami hadirkan masyarakat bisa memahami sekomprehensif mungkin,” harapnya.
Salah satu bahasan utama dalam pelatihan ini adalah potensi bahaya saat kurban.
Dalam hal ini penggunaan alat pelindung diri mengingat banyak kecelakaan terjadi dalam proses pemotongan hewan kurban.
“Alat pelindung diri itu bukan mencegah kecelakaan. Tapi mengurangi efeknya,” jelas Prasetyo Joko Hertanto selaku narasumber.
Prasetyo mengingatkan hal-hal kecil yang seringkali diremehkan masyarakat.
Misalnya, tidak menggunakan sepatu, penggunaan tali yang sudah usang, maupun pisau yang tidak tajam.
“Hampir setiap tahun ada kecelakaan dan itu prihatin sekali. Kalau mau profesional, prosedur kerja itu ya dijalankan,” ujarnya.
Ketua Juru Sembelih Halal Bantul tersebut turut mengingatkan proses kurban bertujuan untuk menghasilkan daging yang aman, sehat, dan utuh.
Karena tujuannya untuk ibadah, standar syariat juga perlu diperhatikan.
“Bekali dengan ilmu, keberanian, dan selalu tawakal,” pesannya.
Salah satu peserta, Tatang Mulyana mengaku pelatihan semacam ini begitu penting. “Cara motong agar cepat, tapi tangan kita tidak kena pisau itu yang sulit,” jelasnya.
Ia mengaku sering mengikuti pelatihan semacam ini bersama kawan-kawan takmirnya.
Hal ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan dengan tukang jagal yang disewa.
Kini, mereka sudah bisa melakukan kurban secara mandiri.
“Manggil jagal itu mahal. Panitia juga tetap kerja keras,” keluh Tatang.
Agenda ini diikuti dengan praktik mengasah pisau sekaligus pemotongan hewan kurban.
Untuk pemotongan digunakan pohon pisang sebagai alat bantu pelatihan. (cr1)
Editor : Meitika Candra Lantiva