RADAR JOGJA - Pemprov DIY menemui berbagai tantangan dalam pengelolaan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, sebuah warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO.
Sejak penetapannya pada 18 September 2023 lalu, langkah-langkah percepatan telah dilakukan.
Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, pemprov telah menetapkan satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) pengelolaan Sumbu Filosofi, yaitu sekretaris daerah yang bertanggung jawab.
"Sehingga alamat pengelolaan ini sudah jelas," katanya Selasa (28/5).
Beny menjelaskan pembentukan UPT Sumbu Filosofi menjadi langkah awal untuk memberikan kepastian dan kendali yang lebih baik untuk kawasan yang terbentang dari Tugu Pal Putih sampai dengan Panggung Krapyak.
Apalagi, pengembangan ini berada di dua wilayah administrasi yaitu Kota Jogja dan Kabupaten Bantul.
Namun peran pemprov sebagai jembatan antara kedua wilayah itu sangat krusial dan sudah dijalankan.
"Kita tidak bisa lepas, provinsi punya peran maka ini akan menjadi garda depan pelaksanaan pengembangan sumbu filosofi," ujarnya.
Benny menyebut, masyarakat juga sering kali mempertanyakan manfaat langsung dari pengembangan ini, sehingga diperlukan peta jalan yang jelas untuk menjawab tuntutan mereka.
Namun demikian, pemerintah menekankan bahwa penataan kawasan ini bukanlah upaya penggusuran, melainkan penataan kembali.
Sebab, pemprov pun tengah berupaya memperbaiki pengelolaan Sumbu Filosofi sesuai dengan prasyarat dari UNESCO.
Baca Juga: Bikin Haru! Aktris Dian Sastrowardoyo Angkat Derajat Anak-Anak Muda Desa Agar Bisa Sekolah ke Perguruan Tinggi!
Termasuk mengatasi lima tekanan yang telah diidentifikasi.
Hal itu mencakup tekanan pembangunan, lingkungan, kesiapsiagaan bencana, isu pariwisata berkelanjutan dan eksistensi sosial-budaya masyarakat sekitar.
"Maka wajah wajah yang kasat mata bisa kita tata, ya kita tata karena namanya filosofi berarti mengandung makna yang ditetapkan adalah sebuah filosofi tapi penandanya benda," jelasnya.
Sumbu Filosofi Jogja, menurutnya memerlukan perhatian khusus.
Di samping agar tidak terganggu oleh lima tekanan utama, kebersihan dan pengelolaan sampah menjadi isu lingkungan yang sangat diperhatikan.
"Meski sudah ditetapkan sebagai warisan dunia, masalah sampah masih mengkhawatirkan. Ini sebenarnya bisa kita atasi dengan kerja sama masyarakat," lanjutnya.
Pun terkait pengaturan ruang publik, seperti parkir dan kegiatan kuliner, yang selama ini menjadi masalah saat periode libur lantaran kerap kali ada fenomena nuthuk.
"Sederhana saja foto laporkan. Saya punya stan lapor, e-lapor bisa menggunakan kanal itu. Itu dalam kendali kita, lalu kita bisa memulainya dengan masyarakat," terangnya.
Menurutnya, pentingnya nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam penataan kawasan ini.
Baca Juga: Pemerintah Jepang Umumkan Peringatan Berlindung, Dampak dari Peluncuran 'Proyektil' Satelit Korea Utara
Mulai dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak, terdapat makna mendalam yang harus dijaga.
"Sumbu Filosofi mencerminkan sirkulasi kehidupan manusia dari lahir hingga kembali ke penciptanya," ujarnya.
Pembelajaran dari sistem Subak di Bali, yang memiliki sistem pengairan pertanian terintegrasi diharapkan dapat diterapkan di Jogja.
Konsep kepemilikan dan tanggung jawab bersama dianggap sebagai kunci keberhasilan.
Baca Juga: Dukung Meritokrasi ASN, Pemerintah Kota Jogja Rilis E-Manajemen Karier. Ini Fungsinya!
Penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan dunia diharapkan juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan internasional, yang pada gilirannya akan menggerakkan roda ekonomi lokal.
"Pariwisata yang berkembang akan membawa dampak positif bagi berbagai sektor seperti kuliner, transportasi, perhotelan, dan pemandu wisata," jelasnya.
Selain itu, perlu adanya upaya mengurangi masalah lalu lintas agar pengunjung dapat benar-benar menikmati makna yang terkandung dalam kawasan itu.
Tak kalah penting juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan dan acara di sepanjang Sumbu Filosofi. Tagline
"Hamemayu Hayuning Bawana" yang berarti membuat dunia menjadi indah atau ayu, menjadi prinsip utama dalam pengembangan ini.
Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya zona inti dan zona penyangga juga terus dilakukan.
Transformasi sungai yang tadinya dianggap sebagai halaman belakang menjadi halaman depan adalah salah satu contoh perubahan pola pikir yang ingin dicapai.
Tahun ini, pemerintah berfokus pada penataan fasad terutama di Malioboro, termasuk elevasi bangunan yang seragam.
Warna putih sebagai warna bangunan utama juga mulai diterapkan secara bertahap untuk menjaga keseragaman dan estetika kawasan.
Diharapkan kawasan ini tidak hanya menjadi warisan budaya dunia yang diakui, tetapi juga menjadi kebanggaan dan sumber kebahagiaan bagi masyarakat Jogjakarta.
Ke depannya, pemerintah berencana untuk memperbaiki fasad bangunan, terutama di kawasan Malioboro, dengan mengembalikan warna putih pada bangunan-bangunan tersebut.
"Kami ingin menciptakan nilai lebih dari Sumbu Filosofi, sehingga tidak hanya dilihat, tetapi juga dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan," imbuhnya.
Editor : Bahana.