RADAR JOGJA - Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo resmi melantik Susmiarto sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman pada Rabu (22/5). Pasca-dilantik, pejabat kelahiran Sleman, 27 Mei 1966 ini punya misi membangun birokrat Pemkab Sleman lebih baik lagi.
Susmiarto mengawali kariernya sebagai calon pegawai negeri sipil pada tahun 1993. Dia dilantik sebagai sekda setelah melewati berbagai tahapan seleksi jabatan tinggi pratama. Serta sudah mendapatkan rekomendasi dan persetujuan dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan gubernur DIJ.
Sebelum mendapatkan tanggung jawab sebagai pimpinan tertinggi ASN Pemkab Sleman, Susmiarto sebelumnya menjabat sebagai kepala Dinas Kependudukan dan Sipil (Disdukcapil) Sleman. Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) itu juga sudah banyak prestasi yang ditorehkan.
Mengemban jabatan sebagai sekda, Susmiarto mempunyai misi untuk mewujudkan birokrat Pemkab Sleman berjalan dengan baik. Sehingga, program-program peningkatan daerah yang sudah disiapkan bisa berdampak langsung kepada masyarakat.
“Sekda adalah bagaimana memastikan semua keputusan berjalan baik, sesuai visi misi perencanaan pembangunan yang ada,” ujar Susmiarto saat ditemui seusai pelantikan.
Selain mewujudkan birokrat yang lebih baik, Susmiarto pun memiliki misi untuk mewujudkan aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Sleman yang tertib dalam segala hal. Entah itu tertib dalam mematuhi ketentuan bekerja, tertib bayar pajak, hingga pengelolaan sampah.
Menurut dia, tertib dalam segala hal memang tidak hanya dalam ketugasan sebagai pegawai pemerintahan. Namun juga tentang bagaimana seorang ASN bisa menjadi sosok yang baik dalam kehidupannya bermasyarakat.
“Dengan tertib di segala hal, bisa menjadi contoh di lingkungannya,” harap Susmiarto.
Di samping fokus terhadap peningkatan kualitas sumber daya ASN, Susmiarto juga sudah punya langkah untuk menanggulangi permasalahan sampah.
Dia mengaku, akan berkoordinasi dengan SKPD terkait untuk merumuskan berbagai program penanggulangan sampah di Bumi Sembada. Upaya penanganannya akan diwujudkan dengan melihat persoalan-persoalan kecil terlebih dahulu. Yakni, dengan melakukan pengolahan sampah dari level kampung.
Mantan panewu Turi ini mengungkap, salah satu contohnya adalah yang sudah dilakukan di tempat tinggalnya di Desa Wisata Brayut, Pandowoharjo, Sleman. Di wilayah itu terdapat organisasi pengelola sampah yang bertugas mengumpulkan iuran kebersihan. Lalu, sampah diangkut ke TPS Padukuhan untuk diambil oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Melalui upaya tersebut sekaligus didukung pembinaan pemilahan sampah. Cara itu mampu untuk mengatasi permasalahan sampah sekaligus mencegah masyarakat membuang sampah secara sembarangan.
“Pengalaman ini ingin saya tularkan untuk mendorong peran serta masyarakat,” kata Susmiarto. (inu/eno)
Editor : Satria Pradika