RADAR JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X melantik Asisten Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Setda DIY Sugeng Purwanto menjadi Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja dan Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIT Srie Nurkyatsiwi sebagai Pj Bupati Kulon Progo di Bangsal Kepatihan, Selasa (22/5).
Pelantikan ini menyusul berakhirnya masa jabatan Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo dan Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti. Selanjutnya Singgih Raharjo dikembalikan ke jabatan awal sebagai Kepala Dinas Pariwisata DIY dan Ni Made Dwipanti Indrayanti sebagai Kepala Dinas Perhubungan DIY.
Kepada Sugeng Purwanto dan Srie Nurkyatsiwi, gubernur meminta agar mengawal pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada). Aparatur Sipil Negara (ASN) harus dipastikan menjaga netralitas dalam pesta demokrasi di tingkat kabupaten/kota pada November mendatang.
"Pemerintah daerah juga ikut partisipasi untuk pelaksanaan pilkada,” pesannya.
Selain itu, Pj baru juga memiliki tantangan yang krusial salah satunya persoalan desentralisasi pengelolaan sampah. Dalam konteks ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dan Kabupaten Kulon Progo dapat merencanakan dan mengimplementasikan konsep tata kelola sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Penguatan edukasi lingkungan baik melalui pendidikan formal maupun informal, dan melalui skema pemberdayan masyarakat. Bagi pemerintah Kota Jogja, setidaknya harus diperkuat dengan visi tata kelola food waste atau sampah pangan. “Mengingat sektor pariwisata dan bisnis kuliner berpotensi menyumbang sampah pangan," ujarnya.
Demikian pula dengan Kabupaten Kulon Progo, HB X meminta perlu mengoptimalkan peran wilayahnya sebagai kota bandara, melalui potensi smart agriculture, smart tourism, dan circular economy. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo harus cermat dalam memilih dan memilah investor dengan ketat dalam proyek Aeropolis YIA sesuai program pembangunan yang telah direncanakan bersama Pemprov DIY.
Kerja sama dengan JICA harus terus dilanjutkan, untuk mengintegrasikan kawasan bandara dengan pengembangan infrastruktur pendukung yang efektif. “Agar memberikan benefit nyata bagi Kabupaten Kulon Progo," jelasnya.
Selain itu, UMKM di Kulon Progo harus diberikan dukungan khusus untuk meningkatkan standar dan keterjangkauan produk mereka agar memenuhi kualitas internasional dengan memanfaatkan fasilitas di YIA. Ini untuk mempromosikan produk-produk terkurasi kepada wisatawan internasional. "Tentu dengan didukung optimalisasi platform SiBakoel Jogja, untuk penetrasi pasar UMKM melalui IT," terangnya.
Pj Bupati Kulon Progo itu juga diminta harus memastikan program bantuan sosial lansia dapat berjalan efektif dalam bingkai akuntabilitas dan berkeadilan dengan kolaborasi lintas sektor antarlevel pemerintahan.
Pj Wali Kota Jogja Sugeng Purwanto mengatakan kesiapannya untuk menjalankan ketugasan-ketugasan sesuai yang diamanatkan. Salah satunya tugas yang cukup berat baginya adalah mengawal prosesi pergantian kepala daerah dalam pilkada mendatang. Sejak dari pemilihan umum, prosesi pengambilan suara sampai dengan pelantikan.”Kami harus menyukseskan pemilukada sampai terpilihnya pimpinan daerah definitif," katanya.
Pun birokrat yang pernah menjabat kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY itu juga siap menjunjung tinggi azas netralitas ASN di lingkungannya. Karena sejatinya, secara umum normatifnya dalam aturan ASN memang harus netral.
"Apapun alasan dan motivasinya harus netral," ujarnya.
Sugeng juga siap melanjutkan kebijakan penanganan sampah yang telah ditinggalkan oleh Pj sebelumnya. Kebijakan yang dinilai tepat akan dilanjutkan dan sebaliknya. Jika ada kekurangan akan disempurnakan. Namun, yang tak kalah penting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri untuk bisa mengelola sampah dengan menarik dan bijaksana. Karena tidak mungkin urusan sampah hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi bagaimana elaborasi dari semua stakeholder maupun non-government.
Pj Bupati Kulon Progo Srie Nurkyatsiwi akan melanjutkan proyek Aeropolis YIA. Utamanya soal para pelaku usaha atau UMKM diharapkan tidak hanya sebagai penonton semata, melainkan bisa terlibat dan mempunyai peran yang pada akhirnya memiliki dampak positif. "Tapi tidak tiba-tiba mereka bisa langsung memanfaatkan kalau mereka tidak berbenah," katanya.
Menurutnya, saat para UMKM berbenah praktis dibutuhkan pembinaan atau pendampingan dari pemerintah, lintas sektor atau lintas wilayah. Adanya potensi Bandara YIA di Kulon Progo, apalagi telah berstatus internasional menjadi peluang dan kesempatan untuk mereka bisa naik kelas.
Ini dilakukan dengan cara melakukan manajemen, strategi pemasaran, hingga siap untuk menuju ekonomi digital. Bagaimana kemampuan SDM dan SDA, kelembagaan mereka, produktivitas mereka, terkait produk-produk mereka bagaimana bisa go international. “Ini butuh komitmen dan komunikasi semua pihak untuk siap melakukan kreasi bersama dengan semua pihak," tambahnya. (wia/din)