RADAR JOGJA - Enam pelajar yang diciduk polisi karena terlibat kericuhan konvoi kelulusan Senin (13/5) lalu, kini telah diserahkan ke keluarga masing-masing. Sementara satu orang siswa menjalani pemeriksaan di Satresnarkoba Polresta Jogja karena kedapatan membawa obat berbahaya.
Kasi Humas Polresta Jogja AKP Sujarwo mengatakan, dalam kejadian itu polisi menangkap tujuh pelajar. Identitas para pelajar itu yakni berinisial RDY asal Sleman yang merupakan pelajar SMK negeri di Jogja. Lalu HDU, warga Tirtoadi, Mlati, Sleman, pelajar di SMK swasta di Jogja. Kemudian PBRD, asal Wirobrajan, Kota Jogja, pelajar di SMK negeri di Jogja. Selanjutnya RA dan OR, keduanya warga Kalasan, Sleman, yang merupakan pelajar di salah satu SMK negeri di Jogja.
Lalu RAD, warga Kraton, Kota Jogja, pelajar di salah satu SMK negeri di Jogja. Serta AHS, warga Kapanewon Mlati, Sleman, pelajar di salah satu SMK swasta di Jogja. "OR dan RA diamankan di Polsek Wirobrajan," jelas Sujarwo kemarin (14/5).
Ia mengungkapkan, polisi mengamankan lima petasan kembang api, dua boks cat semprot serta satu unit sepeda motor dan dua ponsel milik kedua pelajar yang digiring ke Polsek Wirobrajan. Polsek Umbulharjo juga menciduk satu pelajar inisial PBRD yang diduga terlibat konvoi kemarin.
“Tidak ada barang bukti tindak kekerasan dari tangan PBRD, kecuali satu unit sepeda motor. Untuk HDU dan RDY diamankan Polsek Gondokusuman,” kata Sujarwo.
Polisi juga mengamankan barang bukti dua buah pil koplo milik RDY. Sementara dua pelajar yakni AHS dan RAD diamankan jajaran Satlantas Polresta Jogja.
Sujarwo mengatakan, pihak kepolisian telah melakukan pendataan terkait kerugian fisik maupun materil. "Kami sudah menghubungi orang tua para pelajar dan melakukan pemeriksaan. Sementara tidak ada korban jiwa maupun luka-luka karena belum sempat kontak fisik," ucapnya.
Kasatreskrim Polresta Jogja AKP Probo Satrio menjelaskan, satu orang yang tercebur ke sungai di Umbulharjo tidak kedapatan membawa apapun setelah diperiksa polisi. Kemudian pelajar yang kedapatan membawa obat berbahaya jenis pil yarindo, diserahkan ke Satresnarkoba.
Satu pelajar itu diketahui membawa empat butir pil. Rinciannya dua butir sudah diminum dan dua masih dibawa ketika konvoi. “Kami serahkan ke Satresnarkoba untuk penanganannya,” kata Probo.
Baca Juga: Konvoi Merayakan Kelulusan SMA di Kota Jogja Berujung Ricuh, Lima Pelajar Digiring ke Markas Polisi
Sementara enam lainnya dibebaskan setelah orang tuanya dipanggil ke Polresta Jogja. Enam pelajar diserahkan kembali kepada orang tua dengan membuat pernyataan. "Termasuk kepala lingkungan setempat kami undang untuk kami serahkan lagi agar dibina,” ucapnya.
Dalam penangkapan itu, polisi juga menemukan beberapa benda yang diduga menjadi senjata. Seperti tongkat pemukul dan gir. Namun benda itu ditemukan sudah terbuang di lokasi kejadian, sehingga tidak diketahui siapa yang membawanya.
Probo mengungkapkan, lokasi keributan usai konvoi kelulusan tingkat SMA terjadi di empat titik. Lokasinya tersebar di Kemantren Wirobrajan, Umbulharjo, Gondokusuman, dan di sekitar Tugu Jogja. Sementara keributan yang dibubarkan polisi berada di Gondokusuman. “Di situ ada yang membuang senjata tajam," ungkapnya.
Dari hasil pemeriksaan polisi, para pelajar yang ikut konvoi semula berkoordinasi lewat WhatsApp. Awalnya hanya ajakan untuk sekadar konvoi dengan coret-coret seragam putih abu-abu. "Karena di tengah jalan situasinya mungkin berubah," ujar Probo.
Aspek Moral Spiritual Kurang Terbina Baik
PP Muhammadiyah turut berkomentar terkait kericuhan antarpelajar saat sedang melakukan perayaan kelulusan tingkat SMA di Jogja, Senin (13/5). Ada tiga faktor yang mempengaruhi insiden itu, salah satunya tradisi kericuhan itu sendiri yang sudah melekat lama.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, kalangan usia pelajar memang berpotensi clash satu sama lain. Bahkan sejatinya, kericuhan sudah seperti menjadi tradisi antarsekolah maupun antarkelas di Jogjakarta.
"Dan itu kadang dipicu dua hal. Satu fanatisme sekolah yang tinggi, kedua ada faktor-faktor relasi di luar sekolah seperti ada geng, arena-arena konflik yang kemudian memperoleh pemicu," katanya kemarin (14/5).
Haedar menjelaskan, dari aspek substansi seluruh lembaga pendidikan diminta perlu meningkatkan lagi pendidikan atau pembinaan akhlak dan karakter serta hal-hal yang bersifat spiritual. Sebab belakangan ini dinilai, pendidikan lebih kepada orientasi untuk pengembangan cognitive skill dan persaingan sangat tinggi. "Sehingga aspek-aspek yang bersifat moral spiritual itu kurang terbina dengan baik," ujarnya.
Tak kalah penting faktor lain yang dapat memicu hal itu juga lingkungan sekitar. Lingkungan atau ekosistem sosial sekarang ini dinilai harus semakin menunjukkan kepedulian pada anak muda yang sedang bertumbuh menjadi pribadi dewasa.
Menurutnya, ketika mobilitas sosial orang tua makin tinggi, memungkinkan juga di lembaga-lembaga pendidikan dan publik semakin mengarah pada mobilitas tinggi, itu lalu mereka lupa pada perhatian kepada anak muda.
"Ini harus ada langkah bersama. Tapi sejauh yang menurut internal Muhammadiyah akan ada langkah-langkah tindakan yang spesifik," terangnya.
Sebagai upaya agar kejadian ini bisa diminimalisasi hingga tak terulang lagi, maka perlu adanya langkah-langkah bersama antara pihak-pihak terkait. Dia akan meminta perwakilan wilayah Muhammadiyah Kota Jogja untuk turut menyiapkan langkah-langkah preventif.
"Nanti kita lihat kasusnya ke pimpinan daerah kota Jogja yang membawahi majelis Dikdasmen. Kami pusat kan tidak bisa langsung turun tangan. Supaya ada tindakan-tindakan yang bersifat preventif maupun kuratif yang lebih tersistem lagi, lebih tegas lagi agar hal itu tidak terjadi," tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga meminta Muhammadiyah Kota Jogja tentu perlu meningkatkan jaringan pengawasan agar setiap sekolah selalu bisa mencegah hal-hal yang dimungkinkan terjadi serupa.
"Maka tidak usah panik. Kalau misalnya perlu ada langkah integratif, ya seluruh pihak satu di lingkungan majelis dasar menengah," tambahnya. (tyo/wia/laz)