RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Diskes) DIY mencatat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) meningkat di DIY tahun 2024 ini.
Berdasar hasil analisis, daerah dengan kasus DBD tinggi berada di Kabupaten Gunungkidul.
Ini karena capaian angka bebas jentik terbilang rendah, ada yang sampai di bawah 70 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan DIY Setiyo Harini mengatakan, capaian angka bebas jentik yang rendah tersebut terutama seperti yang terjadi di Gunungkidul.
"Artinya di daerah itu gerakan pemberantasan sarang nyamuk, gerakan 3 M plus atau menguras, menutup dan mendaur ulang sampah arau barang-barang bekas serta Gerakan 1 rumah 1 jumantik (G1R1J) belum berjalan dengan baik," katanya kepada Radar Jogja Minggu (12/5).
Berdasar data Diskes DIY, total penderita dan kematian akibat penyakit DBD di DIY periode Januari hingga 6 Mei tahun 2024 sejumlah 1.115 orang.
Dibanding dengan tahun 2023 dalam kurun 1 tahun, jumlah kasus di tahun 2024 meningkat drastis. Pada tahun lalu jumlah kasus hingga akhir tahun 2023 berjumlah 703 kasus.
"Jelas tinggi tahun ini, tahun lalu akhir tahun 703 kasus. Tahun ini baru awal Mei sudah 1.112 (penderita), tahun ini sampai dengan 6 Mei meninggal 3 (orang), karena terlambat penanganan," ujarnya.
Rini merinci ribuan kasus DBD selama 4 bulan itu, terbanyak terjadi di Gunungkidul dengan total kasus sebanyak 603 kasus.
Dua pasien di antaranya meninggal dunia di bulan Februari.
Rangking dua terjadi di Sleman sebanyak 175 kasus, di antara 1 pasien meninggal karena DBD.
Baca Juga: SERU! Upaya Promosi Wisata, Ratusan Mobil Kuno Ikuti Rally di Kota Magelang
Kemudian disusul Bantul sebanyak 171 kasus, Kota Jogja 93 kasus dan terakhir Kulon Progo 73 kasus.
Rini menyebut, faktor 3 pasien meninggal dunia karena adanya keterlambatan penanganan mulai dari masyarakat.
Masyarakat kurang mengenali gejala dan tanda-tanda DBD.
"Mungkin masyarakat mengira itu panas biasa, jadi kalau panas tidak turun-turun sampai 3 hari hanya turun saat diminumi obat turun panas misalnya, lalu naik lagi itu harus segera diwaspadai dan bawa ke fasyankes, hari ke 5 dan ke-6 itu masa kritis," jelasnya.
Masyarakat dihimbau meningkatkan kesadaran ketika sakit dengan panas yang lebih dari 3 hari.
"Panas turun dikiranya sudah sembuh, padahal itulah masa kritis DBD. Jadi sebaiknya jika panas sampai 3 hari segera bawa ke fasyankes atau dokter," terangnya.
Masyarakat juga diminta kewaspadaannya, terhadap perilaku nyamuk Aedes Aegypti yang menggigit pukul 08.00-10.00 dan pukul 15.00-17.00. Sebab nyamuk DBD
memiliki perilaku mengigit pada pagi dan sore hari.
"Jadi bukan dalam kondisi sedang tidur (malam), karakter nyamuknya seperti itu. Berkeliaran pagi, jam-jam anak sekolah, orang bekerja. Habis subuh tidur lagi, bangun-bangun sudah jam 10-an, nah itu yang sangat beresiko atau tidur habis ashar," bebernya.
Dengan begitu, masyarakat diingatkan kembali tetap tertib dengan pola hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan lingkungan kerja dengan baik.
Penampungan air bersih ditutup dengan baik, bak mandi rutin dibersihkan, tempat-tempat yang sering dijadikan sarang nyamuk dan tempat bertelur nyamuk juga dibersihkan.
"Seperti sampah yang berserakan, air penampung dispenser, tempat minum burung/ayam, baju-baju yang bergelantungan," tambahnya.
Baca Juga: Kebakaran Terjadi di TPS Limbah Makmur Godean Sleman, Segini Kerugiannya..
Tak kalah penting masyarakat dihimbau lebih mengenali tanda dan gejala DBD dengan baik, jika panas sampai 3 hari segera periksakan ke dokter/fasyankes agar segera terdeteksi penyakit yang sesungguhnya dan mendapat penanganan cepat dan tepat
"Bila terlanjur sakit, berobat, konsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup agar cepat sembuh. Penyakit akibat virus termasuk DBD akan bisa dilawan dengan daya tahan tubuh yang kuat," imbaunya.
Editor : Bahana.