RADAR JOGJA - Semasa kuliah senang dengan beberapa hewan hingga memutuskan untuk memelihara sejumlah satwa. Tak disangka hobi yang awalnya mengeluarkan uang, kini justru menjadi pemasukan tambahan dari memelihara tikus dan ular. Ini yang sekarang dijalani Faiz Zaki.
KHAIRUL MA'ARIF, Bantul
Masih sedikit masyarakat yang melakukan budi daya tikus dan ular. Maklum, ini bukan hewan yang familiar untuk diternak seperti halnya kambing, sapi, ayam, atau bebek. Faiz Zaki menjadi sosok minoritas ini, bahkan ia sudah melakukannya 10 tahun lebih.
Ini bermula dari kesenangannya yang memang tertarik pada hewan-hewan sehingga memeliharanya. Awalnya dia memelihara burung, tetapi karena cara pengurusannya menguras waktu, akhirnya berganti menjadi ular. Pergulatan itu mulai digeluti sekitar 2013 lalu dengan mulai memelihara ular jenis kingsnake.
Awalnya hanya membeli sepasang saja hingga kemudian beranak pinak. Lantas dua tahun berselang memelihara tikus jenis mencit dan ASF. "Pertamanya memelihara saja, sekarang dijual,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (9/5).
Pria asal Surakarta ini awalnya tidak membayangkan kalau pada akhirnya hobinya itu dapat mendatangkan cuan tambahan. Menurutnya, dulu hanya fokus memelihara ular dan tikus saja untuk dikembangbiakkan. Lambat laun jumlahnya yang semakin banyak dan ada peluang untuk dijadikan bisnis, sehingga akhirnya diperjualbelikan. Namun tidak langsung dapat pelanggan. Ia harus mencari sarana menjualnya terlebih dahulu.
Faiz membeberkan, awalnya dari grup Facebook pecinta hewan lantas berpindah ke aplikasi di gawai. Medsos menjadi titik mula dia mengetahui bahwa hewan yang dipelihara itu dapat dijadikan bisnis yang menguntungkan secara materi. Namun, dia membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa mengetahuinya.
Lulusan UNS ini mengungkapkan, baru sekitar 2019 hewan peliharaannya mulai diperjualbelikan. "Awal tahu bisa dijual ternyata nilai ekonominya tinggi,” tambahnya. Dari modal beli ular seharga sekitar Rp 1 juta, lantas berkembang biak menjadi delapan ekor sehingga mendapat keuntungan dari hasil peranakannya itu.
Membutuhkan waktu lama, sekitar satu tahun sekali berkembang biaknya. Rentang harga ular mulai dari Rp 500 ribu hingga yang paling mahal Rp 5 juta. Sedangkan tikus harganya dari Rp 2.500 hingga Rp 5 ribu yang biasanya dibeli untuk makanan hewan jenis reptil.
Pembelinya ada yang dari luar kota dan dari Jogja sendiri. Untuk pengiriman luar kota khusus untuk pembelian ular. Sedangkan untuk tikus, pembelinya masih sekitaran Jogja. “Ular paling jauh dikirim ke Sumatera,” tuturnya. Dia belum dapat menjual tikus ke luar kota karena stoknya masih sangat terbatas.
Pria 33 tahun itu mengungkapkan, omzetnya dalam setahun pernah paling tinggi mencapai Rp 50 juta. Menurutnya, kalau di rata-rata dalam satu bulan mendapat penghasilan tambahan sebesar Rp 2 juta. Dia mengaku penjualan dari budi daya ular dan tikus itu bukan menjadi pekerjaan utamanya sehari-hari.
Itu hanya menjadi usaha sambilan, sehingga menjadikannya passive income untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan pekerjaan utamanya merupakan freelance melukis dan design digital. Dia mengontrak rumah di Kalurahan Palbapang, Bantul, yang dijadikannya sebagai tempat melukis serta budi daya ular dan tikus. (laz)