Diketahui tukang tersebut sedang proses membongkar salah satu rumah yang terdampak proyek pembangunan benteng Keraton Yogyakarta.
Menurut keterangan salah seorang warga sekitar yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, Panggih mengatakan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 08.45.
Saat kejadian dirinya sedang lewat di TKP dan langsung ikit mengevakuasi korban.
"Jam 08.45 itu kejadian brek nya, karena pas saya lewat depan rumah ini," ujarnya.
Menurutnya saat kejadian terdapat empat orang di TKP. Dua tukang berada di dalam dan dua lainya berada di luar rumah yang merupakan supir truk dan keneknya.
"Yang satu meninggal satu selamat tetapi luka-luka. Terus yang dua di luar sopir truk dan kenek yang membantu evakuasi pertama sama saya bertiga," tuturnya.
Saat melakukan evakuasi, Panggih hanya berada diluar dan membantu mengangkat reruntuhan bangunan.
Hal tersebut dikarenakan dirinya merasa tidak memakai baju safety sehingga terlalu berbahaya jika masuk ke dalam rumah.
"Saya langsung hubungi teman-teman relawan dan langsung datang kesini semua karena poskonya deket di Tamansari sini," bebernya.
Panggih menilai robohnya semen bagian atap runah tersebut dimarenakan tumpukan genteng yang menyebabkan berat.
Ditambah lagi tukang dibawah sedang memukuli tembok dengan palu besar sehingga menyebabkan getaran.
"Dak itu kan berat, dan dibawah itu ada getaran dari tukange yang memukuli tembok dengan palu, cuma mereka kurang perhitungan. Harusnya genteng diturunin dulu baru mengerjakan yang lain," pungkasnya.
Sementara itu warga setempat lain, Yuni mengatakan insiden ada dua tukang yang bertugas membongkar bangunan. Bagian tersebut adalah gawangan pintu.
"Baru bongkar-bongkar, terus tiba-tiba mak bruk dan lanjut suara tolong-tolong," tandasnya.
"Kita di (rumah) samping-sampingnya sempat dengar, tetapi nggak bisa langsung menolong, karena nggak ada alat berat," pungkasnya.
Editor : Bahana.