RADAR JOGJA - UPT Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar pentas pantomim Yogyakarta ke-10 kali pada Selasa (30/4) malam. Pentas yang diselenggarakan di TBY itu juga mengikutsertakan 45 anak berpantomim.
Penyelenggaraannya sebagai sarana bagi para seniman pantomim di Jogjakarta. Selain itu diharapkan dapat melahirkan sosok Jemek Supardi baru dari kota ini.
Ada tiga kelompok berpartisipasi dalam pentas pantomim bertajuk "Api dan Gagasan" ini. Ketiga kelompok yang turut serta adalah GMT Jogjadrama, Fireflies Collective, dan Banyumili Art Performance and Anonimime. Setiap kelompok memiliki waktu pentas sekitar 30 menit di atas panggung untuk berpantomim.
Kepala UPT TBY Purwiati bersyukur pergelaran pantomim Yogyakarta 2024 terlaksana. Menurutnya, pada penyelenggaraan tahun ini mengusung konsep unik dengan kolaborasi antara disiplin ilmu seni yang ada. "Harapan kami ini menjadi ruang yang seluas-luasnya untuk seniman pantomim," paparnya kemarin (30/4).
Dia mengungkapkan, pementasan ini menjadi awal sebagai kebangkitan kembali pantomim di Jogjakarta. Secara SDM Yogyakarta tidak kekurangan seniman pantomim. Meskipun sosok legendarisnya sudah berpulang yakni Jemek Supardi yang dikenal sebagai seniman pantomim nasional.
Purwiati meyakini masih banyak penerus Jemek Supardi. Oleh karena itu, UPT TBY sebagai kepanjangan tangan pemerintah memberikan ruang dan fasilitas yang ada di TBY seluas-luasnya. Untuk itu dapat digunakan sebagai ruang kolaborasi dan menuangkan ide gagas kreatif untuk pengembangan pantomim di Yogyakarta.
Penyelenggaraan pentas pantomim 2024 ini juga untuk mendukung objek kebudayaan yang di dalamnya terdapat kategori kesenian. Dia berharap, kegiatan yang diselenggarakan di TBY dapat memberikan dampak atau manfaat yang baik untuk masyarakat. Baik pengembangan secara individu, komunitas maupun secara profesional, itu fungsi TBY sebagai laboratorium untuk seniman dan budayawan. "Ini kali ke-10 diselenggarakan," ujar Purwiati.
Sudah ke-10 kali digelar dengan eksperimen pantomim tidak secara konvensional. Agar dapat berkembang lagi sesuai zaman yang kontekstual dengan sekarang. Oleh karena itu, menurutnya, penyelenggaraan ini sebagai penanda zaman bahwa pantomim tidak melulu teater yang tidak bicara. Namun dengan sarana pendukung dan konsep pendukungnya, sehingga bisa dikembangkan lebih baru dan segar.
Purwiati mengaku penyelenggaraan pentas pantomim Jogjakarta ini juga sebagai upaya untuk melahirkan Jemek Supardi baru. Itu karena banyak pelaku seni pantomim yang dimiliki Jogjakarta. "Untuk memberikan kesegaran para anak muda berpantomim," tuturnya.
Baca Juga: Pameran Dendang Calon Guru UNY, Wadah Puluhan Karya Mahasisiwa Indonesia Dipamerkan di TBY
Sementara itu, narasumber TBY dalam bidang pantomi Broto Wijayanto menambahkan, tajuk yang diambil adalah Pantomim dan Api Gagasan yang mengolaborasikan masing-masing dua orang di setiap pertunjukan. Kolaborasi yang dilakukan memiliki latar belakang kesenian yang berbeda-beda.
Menurutnya, ada yang memiliki latar belakang penulis, performance dan penggarap teater kerakyatan, ada juga yang tari. Kolaborasi untuk menumbuhkan hal-hal baru dalam dunia pantomim. Dengan begitu, pantomim tidak stagnan hanya dalam lingkup yang kecil. Tetapi juga dapat masukan dan ide gagasan dari yang lain.
"Itu kenapa temanya pantomim dan api gagasan sehingga bisa masuk dari mana saja," tegasnya. Dia membeberkan, pementasannya juga melibatkan kalangan anak hingga dewasa. Untuk kalangan anak-anak ada sekitar 45 yang turut serta.
Dengan begitu, pantomim diharapkan dapat menyentuh semua kalangan. Broto menyebut, proses untuk pementasan berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Dia berharap, dari pementasan ini pantomim lebih luas lagi cakupan dan gagasannya.
Selain itu, juga ada pembaruan-pembaruan untuk dunia pantomim. "Pentas ini sangat luar biasa, yang hadir sangat luar biasa dari kalangan pantomim dan disabilitas," ungkapnya.(*/rul/laz)