RADAR JOGJA - Bekerja sebagai karyawan swasta tidak membuatnya puas dengan apa yang sudah dihasilkan. Ria Ayu Astari turut menggeluti dunia usaha pembuatan tas manik-manik.
Dia mencoba menaikkan kembali pamor tas manik yang sempat redup dimakan zaman. Meski pendapatannya baru sebatas UMR, ada rasa kepuasan yang didapatkan.
KHAIRUL MA'ARIF, Jogja
Tas manik-manik sempat ngetren di kalangan anak muda 1980-an. Tetapi eksistensinya redup bak ditelan bumi selama bertahun-tahun. Sudah minim peminat, membuat tas manik-manik sulit ditemukan masyarakat luas.
Apalagi khusus di DIY. Tas manik-manik sulit ditemukan selama bertahun-tahun karena kegandrungan anak muda bergeser. Posisinya tersisihkan dengan model tas lain yang berbahan dasar kulit.
Namun siapa sangka anak muda ini mencoba mengangkatnya kembali ke pasaran Jogja. Ria Ayu Astari sudah sejak 2020 lalu menggeluti pembuatan tas manik-manik. Dia bukan generasi yang mengalami puncak tren dari tas manik-manik pada masa silam.
Perempuan 26 tahun ini menjadikan tas manik-manik sebagai lini usahanya sehari. Bahkan sekarang hasil kreativitasnya itu sudah memiliki nama brand sendiri. Dia menamakannya Zero Beads.
Baca Juga: Peringati Hari Jadi Ke-57, KONI DIY Lakukan Ziarah ke Makam Ketua Umum Terdahulu
Kepada Radar Jogja dia menceritakan latar belakang penamaannya itu karena diambil dari angka nol. Zero merupakan kata dari Bahasa Inggris yang artinya nol atau kosong. Angka nol atau kosong yang berbentuk lingkaran itu dimaksudkan bentuk bahan tas yang diproduksinya adalah manik-manik.
"Itu juga menjadi harapan agar ke depan produk ini dapat terus diproduksi dan dicintai banyak orang tanpa henti," katanya (18/4). Produk yang dibuatnya 100 persen buatan tangan berbahan manik-manik. Manik-manik dipilih karena dinilai bahan yang fleksibel dan mudah dibuat.
Bahan manik-manik memiliki banyak warna yang beranekaragam. Ditambah modelnya yang juga berbeda-beda sehingga membuat Ria tertantang untuk mencoba membuat berbagai model tas.
Penggunaan manik-manik juga untuk meminimalisasi pemanasan global, karena semua bahan dapat digunakan sebagai karya komersial.
Perempuan lulusan UNY ini membeberkan, bahan manik-manik dirangkainya sampai membentuk seperti tas. Proses itu membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.
Membuat tas manik-manik menghasilkan kepuasan tersendiri layaknya membuat karya seni. "Untuk saat ini saya memproduksi tas, dompet, saku, kalung, dan nametag," tuturnya.
Tidak akan berpuas diri sampai di situ saja. Dia bertekad akan mengeksplorasi produk-produk baru agar dapat terus diterima oleh semua kalangan.
Sebagai pecinta seni, membuat berbagai produk dengan bahan manik-manik menjadi tantangan tersendiri bagi Ria. Inspirasi membuat itu ketika 2020 lalu dia melihat teman ibunya memberikan hadiah bottle strap dari manik-manik. Dari situlah rasa penasarannya muncul sehingga mencari tahu cara pembuatannya.
Ketika pandemi Covid-19 awal-awal melanda Indonesia, Zero Beads lahir. Itu karena harus stay di rumah sehingga menciptakan kegembiraan dengan membuat tas manik-manik. Prosesnya bukan hanya menciptakan kegembiraan, tetapi juga kebebasan yang baru karena terkungkung di dalam rumah.
Tas manik-manik yang dibuat Ria didesain unik. Kreasinya sesuai keinginan hati, namun juga dapat diterima dan dikagumi oleh konsumennya, sehingga menjadi aksesoris fashion favorit.
Menurutnya, sekarang pembuatan tas manik-manik menjadi usaha sambilan di antara kesibukannya menjadi karyawan swasta. "Saat ini saya memadupadankan manik-manik dengan tambahan tali dan aksesoris pendukung lainnya," ungkapnya.
Ria menuturkan, kini beads accessories banyak diminati kalangan anak muda dan ibu-ibu. Biasanya dia menjual melalui media sosial dengan cara di-endors atau diiklankan.
Dia tidak hanya menjual produk manik-maniknya saja. Tetapi juga membuka kelas pembelajaran bagi siapa saja yang ingin belajar. Sasarannya anak muda yang mau menghargai brand lokal dan memiliki kemauan untuk belajar tentang barang handmade.
Sementara ini dia hanya menjual barangnya secara online. "Omzet Rp 2 jutaan, konsumennya dari seluruh Indonesia. Bahkan pernah ada orang luar negeri beli tetapi ketika kebetulan berada di Jogja," ungkapnya. (laz)