Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Materi Tak Relevan Saat Ini, Sejarah Tetap Penting untuk Hargai Perjuangan

Fahmi Fahriza • Minggu, 21 April 2024 | 13:55 WIB
Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri.  (Fahmi Fahriza)
Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri.  (Fahmi Fahriza)

RADAR JOGJA – Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri mengungkapkan, pelajaran dan pendidikan sejarah tetaplah penting. Tantangannya saat ini adalah bagaimana cara mengemas sejarah itu menjadi bagian dari kehidupan anak masa kini.

"Sejarah itu tetap penting untuk menanamkan rasa menghargai pada perjuangan hingga pembentukan karakter," bebernya. Tetapi, menurutnya juga tak perlu kembali ke PSPB. Karena materi sejarah itu harus di update. Sebab, materi di PSPB tidak terlalu relevan dengan era dan situasinya saat ini.

Rhoma pernah melakukan riset tentang buku PSPB. Salah satu hasil risetnya menunjukkan, sejarah secara umum maupun di buku PSPB kebanyakan membicarakan sosok pahlawan laki-laki."Sedikit sekali ada tokoh perempuan dan peristiwa yang melibatkan peran perempuan. Seperti kongres perempuan itu hampir tidak ada," lontarnya.

Seingatnya buku PSPB pertama kali digunakan medio 1984. Namun ia sendiri baru menggunakan buku tersebut di kisaran 1988. Seingatnya ketika kelas 3 atau 4 SD. “PSPB dulu memang diwajibkan," katanya perempuan kelahiran 1982 ini.

Materi buku PSPB secara umum berisi foto dan deskripsi para pahlawan Indonesia, baik pahlawan nasional maupun pahlawan revolusi. Menurutnya sistem pembelajaran yang ditekankan pada buku PSPB tersebut adalah hafalan kognitif."Dulu difokuskan menghafal, karena seingat saya ada ujian dan basisnya adalah hafalan. Seperti menghafal nama-nama tokoh, fakta-fakta keras, dan peristiwanya," tuturnya.

Cara  pendidikan seperti ini, menurutnya tidak relevan lagi. Karena hanya memfokuskan siswa untuk menghafal. Harus ada pendekatan yang lebih menyenangkan soal sejarah, seperti menggabungkannya dengan media belajar yang interaktif."Sekarang yang ideal harusnya berfokus pada student center, berbasis project, video, lapangan, jadi tidak selalu harus di dalam kelas dan menghafal," pesannya.

Rhoma mengungkapkan materi yang disampaikan di buku PSPB tidak cukup komplit, secara umum kurang menunjukkan sisi humanisme dari si tokoh. Padahal menurutnya aspek tersebut juga penting untuk diceritakan.

"Mereka digambarkan jadi sosok sempurna, jadi kurang terpercaya sebagaimana manusia seharusnya. Misal Kartini, selain fokus di emansipasinya, harusnya juga ada pergumulan batinnya hingga dia menentang orangtuanya," lontarnya.

Namun itu tidak ditampilkan di buku itu. Mungkin dikhawatirkan anak-anak meniru itu secara harafiah dan ikut menentang. “Jadi serba kompleks untuk mengulas sejarah itu," imbuhnya.(iza/din).

 

Editor : Satria Pradika
#pendidikan sejarah #UNY