Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ancam Kenaikan Inflasi dan Pelemahan Daya Beli Masyarakat, Begini Strategi Disperindag DIY

Winda Atika Ira Puspita • Kamis, 18 April 2024 | 01:21 WIB
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Syam Arjayanti.  Radar Jogja File
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Syam Arjayanti. Radar Jogja File

JOGJA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berlanjut. Dolar AS yang kini sudah menembus Rp 16.200 akan berdampak terhadap pelemahan daya beli masyarakat.

Sebab, kenaikan dolar terhadap nila tukar rupiah praktis akan berdampak terhadap kenaikan inflasi daerah jika tak ada intervensi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Syam Arjayanti mengatakan, dampak pelemahan rupiah jika berlanjut maka akan meningkatkan inflasi.

Terutama, bahan-bahan pangan atau bahan baku seperti pakan, obat-obatan dan lain-lain. Atau, bahan pendukung industri lainnya yang tergantung dari impor luar negeri.

"Hal ini bisa berdampak kenaikan harga barang dan pelemahan daya beli masyarakat," katanya kepada Radar Jogja Rabu (17/4).

Syam menjelaskan sejauh ini hasil komunikasi dengan distributor dan para pengusaha, belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan barang. Namun, hal ini perlu dilakukan antisipasi.

Disisi yang lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ada potensi dalam hal ekspor. Volume dan nilai ekspor bisa meningkat.

Maka eksportir atau pengusaha diharapkan bisa memvariasikan dan menganekaragaman produk, usaha, jenis aset, investasi, dan sebagainya untuk mensikapi ini.

"(Eksportir) bisa mencari peluang diversifikasi ekspor dan bisa meningkatkan daya saing produk DIY," ujarnya.

Namun demikian, Syam menyebut untuk jangka pendeknya belum terlihat ada dampak yang signifikan terjadi di kalangan eksportir terkait kenaikan dolar terhadap nila tukar rupiah ini.

Pun laporan kerugian tentang hal ini juga belum diterimanya.

"Karena kan mereka biasanya sudah dikontrak ada inden pembelian untuk beberapa bulan ke depan jadi harganya seperti saat kontrak di awal. Jadi semoga tidak berlanjut untuk pelemahan rupiah," jelasnya.

Menurutnya, ketika terjadi pelemahan nilai tukar maka ekspor dimungkinkan akan lebih untung.

Namun, dari sisi impor justru terdapat tekanan. Sebab barang yang dibeli dari negara lain harus dibayar lebih mahal.

"Tetapi dari sisi ekspor kita justru diuntungkan kan, karena kesannya barang kita menjadi lebih murah (di luar negeri). Tetapi kalau kita mendatangkan barang dari luar negeri mungkin ada kenaikan ya, misal yang retail yang tidak kontrak diawal itu berpengaruh untuk harga impornya yang pasti lebih mahal kan," terangnya.

Dengan demikian, Disperindag DIY melakukan strategi dalam hal menghitung ulang biaya produksi, biaya jual.

Hal ini untuk mencegah kerugian di tingkat pelaku industri kecil menengah (IKM).

"Supaya ini tidak mengalami kerugian dan tentu kalau perjanjian di awal dirembug lagi dengan buyernya kan," tambahnya.

Adapun, dampak paling berpengaruh Syam merinci adalah terkait barang-barang impor seperti bahan pangan yang paling banyak mengalami kenaikan.

"Itu harus pandai-pandau juga, misal terigu, bawang putih itu kan banyak tergantung dari luar negeri dan perlu kita waspadai sih," sambungnya.

Upaya lain, instansi ini juga terus melakukan gelar pangan murah maupun pasar murah, operasi pasar untuk stabilisasi harga.

"Masih kita teruskan, kami titik beratkan pada bahan pangan yang terdampak. Semoga daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan juga ya," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#dolar amerika serikat #nilai tukar rupiah