JOGJA - Selama arus mudik dan balik Lebaran 2024, Dinas Perhubungan DIY mencatat lebih banyak kendaraan keluar dibandingkan kendaraan masuk DIY.
Berdasar evaluasi, tak semua kendaraan tertangkap kamera penghitung digital atau ATCS di beberapa titik yang terpasang.
Kepala Dinas Perhubungan DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, memang terjadi anomali data antara kendaraan yang keluar dan masuk DIY.
Bisa jadi kendaraan lebih banyak melewati jalur-jalur alternatif sehingga tak tertangkap kamera penghitung yang terpasang.
"Kendaraan yang masuk dan keluar banyakan yang keluar. Itu yang agak sedikit anomali, karena kita pantauannya hanya di beberapa titik," katanya Rabu (17/4).
Berdasarkan data Dishub DIY dari Rabu (3/4) hingga Senin (15/4) total jumlah kendaraan masuk di DIY sebanyak 924.909 unit. Sementara, kendaraan keluar dari DIY sebanyak 1.047.233 unit.
Dari data yang ada terlihat juga arus kendaraan tertinggi keluar terjadi pada Jumat (12/4) dan Minggu (14/4).
Pada hari Jumat jumlah kendaraan keluar sebanyak 100.576 unit. Sementara pada hari Minggu, jumlah kendaraan keluar 101.976 unit.
Data tersebut diperoleh dengan sistem digital dan pantauan di empat jalur utama, yaitu Tempel, Prambanan, Wates, dan Piyungan.
"Kita ATCS (Area Traffic Control System), menghitung secara digitalisasi di jalur utama Prambanan, Jombor, Gamping, Piyungan. Nah kan jalur-jalur lain untuk masuk ke DIY cukup banyak juga," ujarnya.
Menurut analisanya, dimungkinkan banyak kendaraan masuk melewati jalur alternatif maka jumlahnya tak dapat dipotret.
Pun jalur alternatif yang tak direkomendasikan juga dimanfaatkan pemudik.
Dicontohkan seperti jalur-jalur yang di ruas Jalan Prambanan-Jogja sisi utara.
Di sana tidak terpantau. Sebab, alat penghitung terbatas hanya dipasang di jalur-jalur utama.
"Kita tidak tahu juga kepentingan seseorang apakah dia penduduk situ dia lewat atau dia pemudik. Kalau kamera, dia akan menghitung keluar masuk, tidak diperhitungkan perlunya keluar masuk untuk apa. Bisa jadi keluar masuk lagi," terangnya.
Dengan begitu, sebagai bahan evaluasi dan pengalaman pihaknya meminta kontribusi dari kabupaten/kota untuk turut mengirimkan data real time kendaraan masuk dan keluar.
"Mungkin ke depan kami maunya seluruh kabupaten/kota punya kontribusi yang sama dalam artian tidak hanya dikami yang punya titik-titik (untuk menghitung). Tapi, sebenarnya mereka juga kirim data ke kami tapi masih sebatas traffic manual," tambahnya.
Namun demikian, secara kapasitas Made menyebut ada peningkatan kendaraan masuk ke DIY dari tahun lalu sekitar 10 persen. Ini melihat kepadatan yang terjadi di DIY.
Tetapi, arus lalu lintas selama libur Lebaran pun dinilai masih bisa terkendali.
"Walaupun padat luar biasa, bukan macet juga, masih bisa terkendali lah," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad