RADAR JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY memprediksi arus balik Lebaran 2024 terjadi kemarin sore (14/4). Dari data yang dihimpun, kendaraan yang keluar setiap harinya makin meningkat. Hingga kemarin siang, total kendaraan keluar DIJ lebih dari 700 ribu.
Kepala Seksi Pengendalian Operasi Dishub DIJ Lazuardi membenarkan data ini. Kendaraan yang keluar dari DIJ mulai banyak alias meningkat. Namun masih banyak yang ada di lingkup DIJ karena memang ada aktivitas, di antaranya liburan.
"Iya, sudah mulai banyak meningkat (kendaraan keluar DIJ), tapi cenderung masih ada yang aktivitas di dalam. Jadi masih banyak yang seperti acara kumpulan trah, liburan dan sebagainya," katanya kepada Radar Jogja kemarin siang (14/4).
Lazuardi menjelaskan, per kemarin data kendaraan yang keluar terbanyak dibanding hari-hari sebelumnya. Namun demikian kendaraan yang berada di dalam DIJ juga terbilang masih tinggi, seperti yang ditemui di lapangan.
"Kemungkinan nanti sore baru banyak yang keluar. Sebenarnya sudah masuk puncak (arus balik) hari ini (kemarin, Red), cuma karena ada intervensi dari pemerintah untuk libur ditambah dengan WfH dan sebagainya. Mungkin ini bisa menurunkan puncak balik," ujarnya.
Data terakhir Dishub DIJ per Jumat (12/4), total keluar 784.182 kendaraan. Sedangkan yang masuk 678.334 kendaraan. Dari jumlah ini, paling banyak kendaraan keluar melalui pintu timur Prambanan sebanyak 40.614 kendaraan.
Sementara puncak di jalur Patuk-Piyungan terjadi hari Jumat dengan arah masuk 26.076 kendaraan. "Sedangkan jalur Tempel dan jalur Wates sama di hari Jumat. Jalur Tempel hampir imbang arah masuk dan keluar 20.792 dan 20.351 kendaraan," paparnya.
Dikatakan, masa arus balik ini justru yang perlu dikhawatirkan terjadi kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan tertentu dibandingkan semasa arus mudik. "Kalau di wilayah Jogja cenderung arus baliknya yang tinggi. Arus mudiknya tidak terlalu kita khawatirkan. Hanya beberapa titik saja yang kita monitor intensif," jelasnya.
Adapun prediksi jalur yang dikhawatirkan terjadi kepadatan lalu lintas pada arus balik ini, antara lain, jalur ke arah utara yaitu Tempel dan arah timur yaitu Prambanan. Kebanyakan kendaraan melewati dua jalur itu untuk masuk dan keluar.
Selain itu, kendaraan pemudik terbanyak dari arah barat yaitu Jawa Barat dan Jabodetabek. "Kebanyakan menggunakan tol, jalur tol yang bisa masuk dari utara sama timur Prambanan. Selama beberapa tahun ini kita monitor seperti itu karakteristiknya, lewat timur paling utama, kemudian jalur utara," terangnya.
Sedangkan untuk jalur timur disebut sudah ada perilaku dengan mengambil jalur alternatif, khususnya jalur Manisrenggo-Koroulon-Ngemplak sampai dengan Kaliurang. Jalur ini yang sudah meningkat sejak kemarin.
"Kalau kepadatan di kota jelas, maka ada manajemen dan rekayasa lalu lintas oleh Dishub Kota Jogja dan Polresta Jogja. Kalau titik lain di luar jalur itu, mulai Prambanan sampai Janti setiap simpang bermasalah kepadatan," tambahnya.
Demikian pula dari arah utara yang dikhawatirkan terjadi kepadatan seperti di simpang empat Beran. Kemudian di hampir sepanjang Ringroad Utara, mulai Gamping sampai dengan Maguwoharjo Sleman.
"Itu yang kita prediksi kemarin dan benar-benar terjadi. Hanya bisa diurai tidak terlalu lama terjadi kemacetan. Karena ada banyak pengendalian lalu lintas oleh jajaran kepolisian," tambahnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti menambahkan, puncak arus balik sejatinya dimulai kemarin (14/4) hingga Senin (15/4). Dari beberapa arah berdasar data lebih banyak kendaraan yang keluar DIJ daripada yang masuk.
"Kami baru pantau pakai ATCS yang bisa hitung secara digital. Biasanya pemudik itu masuknya nggak pakai jalur utama, tapi alternatif itu yang nggak bisa kami potret berapa volumenya. Maka dari prediksi Rp 11 juta dari Kemenhub itu kok nggak sampai. Mungkin bisa dikalkulasikan dari darat dan udara serta kendaraan pribadi, bus, kereta, dan bandara," katanya.
Tiket Bus Ekonomi Naik 50-70 Persen
Puncak arus balik di Terminal Giwangan diprediksi terjadi kemarin (14/4) dan hari ini (15/4). Itu lantaran menjadi hari-hari terakhir momen cuti bersama libur Lebaran 2024.
Hal ini disampaikan Kepala Terminal Giwangan Sigit Saryanto.
Selain itu, selama masa angkutan Lebaran 2024 tiket bus kelas ekonomi di Giwangan mengalami pelonjakan, mencapai 50 persen-70 persen.
Sedangkan bus yang nonekonomi kenaikan harga tiketnya ditentukan permintaan pasar. Namun tetap didasarkan pada daya beli masyarakat sekarang. Klas eksekutif bus ke Jakarta tiketnya kini Rp 350 ribu hingga 450 ribu, sedangkan double decker Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.
Baca Juga: Jalur Kulon Progo Siap Sambut Pemudik, Polda DIY, Polres, dan Dishub Lakukan Pengecekan Jalur Mudik
Sigit mengungkapkan, selama ini tujuan favorit adalah Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Denpasar, Lampung, dan Palembang. Menurutnya, pada momen Lebaran 2024 ini mengalami sejumlah kendala. Di antaranya keterlambatan bus karena kemacetan.
Itu lantaran kemacetan terjadi di ruas Jalan Jogja-Solo, Jalan Magelang Semarang, dan Jalan Jogja-Kebumen-Gombong. Kondisi itu mengakibatkan sedikit penumpukan penumpang. "Kami mengatasi dengan mengeluarkan bus cadangan untuk mengangkut penumpang, karena sudah disiapkan 10 armada," ucapnya.
Sementara itu, Plh Kepala Dinas Perhubungan DIJ Sumariyoto mengungkapkan, di Jogja tidak mengenal arus balik ataupun arus mudik. Itu karena yang jelas adanya adalah arus pariwisata. Itu didasarkan pada kondisi di lapangan ketika Lebaran hari kedua macet di mana-mana karena pergerakan menuju tempat wisata.
Dia menuturkan, puncak wisatawan sudah terjadi Sabtu (13/4). Tetapi kemungkinan wisatawan akan tetap banyak hingga sepekan ke depan. Sumariyoto mengklaim, jalur menuju destinasi sementara tidak ada yang macet. "Hanya padat, sehingga tersendat jalannya kendaraan," ungkapnya.
Dia menyebut, semua jalan-jalan nasional laju kendaraan tersendat, tidak selancar hari biasanya. Sementara wisata pilihan pelancong berada di dua wilayah yakni Gunungkidul dan Bantul. Untuk Kulon Progo peminatnya tidak sebanyak dua kabupaten itu. (wia/rul/laz)
Editor : Satria Pradika